Senin, 07 Desember 2009

MEMBERI SALAM




MEMBERI SALAM

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita selalu memberi salam satu sama lain. Namun pada zaman sekarang banyak di antara kita yang melalaikan sunnah yang satu ini. Padahal banyak sekali dalil baik dari Al-Qur'an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada sesama muslim. Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. 24:27)

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari "Adi bin Tsamit r.a. ia berkata: Bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah SAW maka ia berkata: Hai Rasulullah, sesungguhnya saya berada dalam rumah dalam keadaan yang saya tidak suka orang lain melihat saya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki dari kerabat saya sering masuk ke rumah saya dan saya dalam kedaan sepeti itu, apakah yang mesti saya perbuat? Lalu turunlah ayat ini. Setelah turunnya ayat ini maka tidak dibenarkan seseorang masuk ke rumah orang lain, kecuali setelah minta izin dan memberi salam.

Ada beberapa hal yang mesti kita ketahui dalam masalah salam ini yang antara lain adalah:

a. Anjuran agar kita selalu memberi salam.
" Dari Abi Umarah AlBarra bin "Azib r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara ; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendo'akan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yng didzalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang ( yang memohon dengan memakai sumpah). (Muttafaqun 'Alaih )

Kita juga dianjurkan agar selalu memberi salam baik kepada orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.
"Dari Abdullah bin "Amar bin "ash r.a. bahwasanya seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah islam yang paling baik? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan ) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal. ( Muttafaqun 'Alaih )

Memberi salam adalah salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan antara sesama muslim, menambah saling cinta antara sesama orang yang beriman.
"Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: Rasullah SAW bersabda: Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesutu yang apabila kalian amalkan akan saling mencintai? Sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam di antara kalian." ( HR.Muslim )

Memberi salam adalah salah satu ibadah yang dijanjikan masuk sorga bagi siapa saja yang selalu mengamalkannya.
" Dari Abdullah bin Salam r.a. ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Hal menusia sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali kekeluargaan (shilaturrahim ), Shalatlah sedang orang-orang ( lagi lelap ) tertidur, niscaya kamu akan masuk sorga dengan selamat. ( HR.Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah - Shahih )

b. Permulaan disyari'atkan salam.

Anjuran agar memberi salam sudah ada sejak zaman nabi Adam u
."Dari Abu Hurairah r.a. , dari nabi SAW beliau bersabda: Allah SWT mencipkan Adam u atas rupanya, panjangnya 60 hasta. Maka setelah selesai menciptakannya Allah SWT berfirman: Pergilah dan berilah salam kepada segolongan mereka - segolongan malaikat yang sedang duduk- maka dengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai perhormatan kepadamu, maka sesungguhnya apa yang mereka ucapkan adalah perhormatanmu dan perhormatan keturunanmu ( yang beriman ). Maka ia (Adam u ) berkata: assalamu 'alaikum. Mereka menjawab: 'Assalamu'alaikum warahmatullah. Mereka menmbah Warahmatullah, Maka setiap orang yang masuk sorga atas rupa Adam u, maka senantiasa makhluk berkurang setelah itu hingga sekarang. ( HR.Bukhari )

c. Hukum memberi salam dan menjawabnya.

Memberi salam adalah sunat dan menjawabnya adalah wajib. Ibnu Abdil Bar menjelaskan bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Namun Qadhi Iyadh meriwayatkan perkataan dari Qadhi Abdul Wahab bahwa memulai adalah sunat atau fardhu kifayah. Qadhi iyadh menjelaskan bahwa yang dimaksud fardhu kifayah di sini adalah bahwa menegakkan sunnah sunnah rasulullah SAW adalah fardhu kifayah. Wallahu "a'lam.
Dari hadits tentang permulaan salam di atas, para ulama sepakat bahwa menambah kalimat dalam menjawab salam adalah masyru' ( disunatkan ) karena hal itu adalah perhormatan yang lebih baik. Firman Allah SWT :
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86)

Adapun memberi salam kepada orang kafir hukumnya adalah haram.Rasulullah SAW bersabda :
"Janganlah kamu memulai orang Yahudi dan nasrani dengan salam. Maka apabila kalian bertemu mereka ditengah jalan maka persempitlah jalannya kepada yang lebih sempit. ( HR. Muslim ).
Namun kalau dalam satu majlis berkumpul muslim dan non muslin kita tetap disyari'atkan mengucapkan salam kepada yang muslim.
"Dari Usamah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW melewati suatu majlis yang di dalamnya bercampur kaum muslimin dan musyrikin - penyembah berhala dan yahudi - maka nabi memberi salam kepada mereka." ( Muttafaqun 'alaih ).

d. Tatacara memberi salam.

Hendaklah yang berkenderaan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama'ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua.
"Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Yang bertunggangan (berkenderaan ) memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yng duduk, yang sedikit kepada yang lebih banyak."( Muttafun "alaih ).
Dan pada suatu riwayat Bukhari: dan yang muda kepada yang tua.

Kalau terjadi saling berlawanan, siapakah yang mestinya lebih dulu memberi salam? Seperti satu jama'ah melewati satu jama'ah yang lebih sedikit jumlahnya, atau yang lebih muda melewati yang lebih tua. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia tidak menemukan dalil tentang hal ini. An-Nawawi memandang dari sudut siapa yang lewat. Maka siapa yang datang maka ialah yang harus lebih dulu memberi salam. Apakah ia lebih tua atau lebih muda, banyak atau sedikit; karena yang sedang lewat itu seperti orang yang mau masuk ke sebuah rumah. Wallahu a'alm.

Rujukan :
1. Fath Al Bari -Al Hafidz Ibnu Hajar Jilid 12 Hal. 262-309
2. Riyadhu Ash-Shalihin- An-Nawawi Hal. 273-279.
Abu Muhammad GZ.

Senin, 30 November 2009

MEMBERI SALAM



MEMBERI SALAM

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita selalu memberi salam satu sama lain. Namun pada zaman sekarang banyak di antara kita yang melalaikan sunnah yang satu ini. Padahal banyak sekali dalil baik dari Al-Qur'an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada sesama muslim. Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. 24:27)

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari "Adi bin Tsamit r.a. ia berkata: Bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah SAW maka ia berkata: Hai Rasulullah, sesungguhnya saya berada dalam rumah dalam keadaan yang saya tidak suka orang lain melihat saya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki dari kerabat saya sering masuk ke rumah saya dan saya dalam kedaan sepeti itu, apakah yang mesti saya perbuat? Lalu turunlah ayat ini. Setelah turunnya ayat ini maka tidak dibenarkan seseorang masuk ke rumah orang lain, kecuali setelah minta izin dan memberi salam.

Ada beberapa hal yang mesti kita ketahui dalam masalah salam ini yang antara lain adalah:

a. Anjuran agar kita selalu memberi salam.
" Dari Abi Umarah AlBarra bin "Azib r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara ; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendo'akan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yng didzalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang ( yang memohon dengan memakai sumpah). (Muttafaqun 'Alaih )

Kita juga dianjurkan agar selalu memberi salam baik kepada orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.
"Dari Abdullah bin "Amar bin "ash r.a. bahwasanya seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah islam yang paling baik? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan ) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal. ( Muttafaqun 'Alaih )

Memberi salam adalah salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan antara sesama muslim, menambah saling cinta antara sesama orang yang beriman.
"Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: Rasullah SAW bersabda: Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesutu yang apabila kalian amalkan akan saling mencintai? Sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam di antara kalian." ( HR.Muslim )

Memberi salam adalah salah satu ibadah yang dijanjikan masuk sorga bagi siapa saja yang selalu mengamalkannya.
" Dari Abdullah bin Salam r.a. ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Hal menusia sebarkanlah ( ucapkanlah ) salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali kekeluargaan (shilaturrahim ), Shalatlah sedang orang-orang ( lagi lelap ) tertidur, niscaya kamu akan masuk sorga dengan selamat. ( HR.Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah - Shahih )

b. Permulaan disyari'atkan salam.

Anjuran agar memberi salam sudah ada sejak zaman nabi Adam u
."Dari Abu Hurairah r.a. , dari nabi SAW beliau bersabda: Allah SWT mencipkan Adam u atas rupanya, panjangnya 60 hasta. Maka setelah selesai menciptakannya Allah SWT berfirman: Pergilah dan berilah salam kepada segolongan mereka - segolongan malaikat yang sedang duduk- maka dengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai perhormatan kepadamu, maka sesungguhnya apa yang mereka ucapkan adalah perhormatanmu dan perhormatan keturunanmu ( yang beriman ). Maka ia (Adam u ) berkata: assalamu 'alaikum. Mereka menjawab: 'Assalamu'alaikum warahmatullah. Mereka menmbah Warahmatullah, Maka setiap orang yang masuk sorga atas rupa Adam u, maka senantiasa makhluk berkurang setelah itu hingga sekarang. ( HR.Bukhari )

c. Hukum memberi salam dan menjawabnya.

Memberi salam adalah sunat dan menjawabnya adalah wajib. Ibnu Abdil Bar menjelaskan bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Namun Qadhi Iyadh meriwayatkan perkataan dari Qadhi Abdul Wahab bahwa memulai adalah sunat atau fardhu kifayah. Qadhi iyadh menjelaskan bahwa yang dimaksud fardhu kifayah di sini adalah bahwa menegakkan sunnah sunnah rasulullah SAW adalah fardhu kifayah. Wallahu "a'lam.
Dari hadits tentang permulaan salam di atas, para ulama sepakat bahwa menambah kalimat dalam menjawab salam adalah masyru' ( disunatkan ) karena hal itu adalah perhormatan yang lebih baik. Firman Allah SWT :
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86)

Adapun memberi salam kepada orang kafir hukumnya adalah haram.Rasulullah SAW bersabda :
"Janganlah kamu memulai orang Yahudi dan nasrani dengan salam. Maka apabila kalian bertemu mereka ditengah jalan maka persempitlah jalannya kepada yang lebih sempit. ( HR. Muslim ).
Namun kalau dalam satu majlis berkumpul muslim dan non muslin kita tetap disyari'atkan mengucapkan salam kepada yang muslim.
"Dari Usamah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW melewati suatu majlis yang di dalamnya bercampur kaum muslimin dan musyrikin - penyembah berhala dan yahudi - maka nabi memberi salam kepada mereka." ( Muttafaqun 'alaih ).

d. Tatacara memberi salam.

Hendaklah yang berkenderaan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama'ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua.
"Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Yang bertunggangan (berkenderaan ) memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yng duduk, yang sedikit kepada yang lebih banyak."( Muttafun "alaih ).
Dan pada suatu riwayat Bukhari: dan yang muda kepada yang tua.

Kalau terjadi saling berlawanan, siapakah yang mestinya lebih dulu memberi salam? Seperti satu jama'ah melewati satu jama'ah yang lebih sedikit jumlahnya, atau yang lebih muda melewati yang lebih tua. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia tidak menemukan dalil tentang hal ini. An-Nawawi memandang dari sudut siapa yang lewat. Maka siapa yang datang maka ialah yang harus lebih dulu memberi salam. Apakah ia lebih tua atau lebih muda, banyak atau sedikit; karena yang sedang lewat itu seperti orang yang mau masuk ke sebuah rumah. Wallahu a'alm.

Rujukan :
1. Fath Al Bari -Al Hafidz Ibnu Hajar Jilid 12 Hal. 262-309
2. Riyadhu Ash-Shalihin- An-Nawawi Hal. 273-279.
Abu Muhammad GZ.

Minggu, 01 November 2009

Idul Adha dan Ibadah Qurban





"Sesungguhnya Aku (Allah) telah memberi nikmat yang banyak kepadamu. Oleh karena itu, sholatlah dan berqurbanlah (sembelihlah binatang qurban).
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu adalah orang yang amalan ibadahnya) terputus." (Q.S. Al Kautsar (1-3)).

Berdasarkan ayat di atas, Allah menegaskan kepada kita, betapa Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat kepada makhluknya, dan Allah SWT meminta kita untuk sholat dan berqurban.Dua ibadah yang Allah inginkan dengan itu hamba-Nya mempunyai pepedulian sosial yang tinggi.

Ada beberapa urgensi/hikmah dalam ibadah qurban, yaitu :
· Melatih niat agar benar dalam ibadah
· Melatih dan mengasah kepekaan sosial
· Melatih keikhlasan dan kesabaran dalam beribadah
· Kegembiraan setahun sekali bagi seluruh ummat (khususnya kaum fakir miskin)

Mencoba membantu sesama disaat mereka memang sedang sangat membutuhkannya menjadi lebih berarti bagi yang menerimanya, meskipun sesungguhnya bantuan itu tidak beberapa, namun betapa besar manfaatnya bagi mereka.

Hari Raya Qurban merupakan moment yang tepat untuk memulai mewujudkan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita setidaknya untuk sekedar menyatakan dengan cara yang tepat bahwa masih ada yang mau memberikan kasih sayang secara nyata.

Pada ayat lain dijelaskan : “Dan bagi tiap−tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhan mu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya. dan berilah kabar gembira kepada orang−orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS: Al Hajj: 34)

Ibadah qurban datang hanya setahun sekali. Namun, ini adalah ruang dan peluang yang diberikan oleh Allah SWT kepada umatnya untuk meningkatkan amal ibadahnya. Ayat di atas ditujukan kepada semua kaum muslimin terutama kepada mereka yang mampu.

Bagi mereka yang mampu dan ingin mencari ganjaran pahala Allah SWT, maka ibadah qurban adalah salah satu ibadah yang sangat dinantikan. Mereka akan menyembelih hewan qurban yang terbaik.

Lalu, untuk siapakah daging qurban tersebut? Pastinya mereka golongan fakir miskin serta mereka yang serba kekurangan sangat memerlukan daging qurban kita.Tanpa keimanan dan taqwa seseorang tidak akan bersedia untuk berqurban. Hanya dengan iman dan taqwalah yang membuat kita ikhlas me-nyisihkan sebagian rizki yang sudah diberikan Allah SWT,untuk melaksanakan ibadah qurban pada Idul Adha.

Mungkin saja sebenarnya dari rizki yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita, kita
sudah mampu berkurban saat ini .Tapi berpikir nanti atau tahun depan saja ber-kurban, dengan menganggap rizki yang diterima saat ini masih kurang.

Tapi perlu diingat…..belum tentu tahun depan kita masih diberi rizki, kesehatan dan
umur utk berkesempatan melaksanakan qurban, mungkin saja tahun depan kita sudah dipanggil menghadap-Nya.


Jumat, 02 Oktober 2009

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI

Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).

Sabtu, 19 September 2009

Hari Raya Idul Fitri 1430 H.



Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .

Kaum muslimin yang kemarin berpuasa –dalam pengertian tidak hanya mengekang nafsu makan dan kelamin— sudah sepantasnya merayakan hari raya Fitri. Memang inilah hari raya mereka.

Setelah sebulan penuh di bulan suci, mensucikan diri dan berlatih menguasai diri, sudah sepantasnya mereka bergembira ria dalam syukur hamba yang 'menang'. Apakah syukur itu diungkapkan dalam ritual mudik, saling mengunjungi, atau yang lain.

Muslim yang paling muslim, menurut Nabi Muhammad SAW, ialah *man salimal muslimuuna min lisaanihi wayadihi,* orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menyakiti sesama. Mukmin sejati ialah man aminannaasu min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang-orang lain. Orang mukmin bukanlah *biththa'aani walaa alla'aani walal faakhisyi walal badziyy*, orang yang suka melukai hati; bukan tukang melaknati; bukan orang yang suka omong kasar atau bicara kotor.

Menurut kenyataan, menjaga atau menahan mulut untuk tidak makan, tidak minum, atau bahkan tidak merokok, jauh lebih mudah dari pada menjaga dan menahannya dari omong kasar yang menyakitkan atau bicara kotor. Menjaga dan menahan tangan untuk tidak menyentuh makanan atau minuman, jauh lebih ringan dari menjaaga dan menahannya dari melukai sesama. Ini semua dibuktikan oleh adanya –kalau tidak banyaknya-- orang muslim yang dalam keadaan puasa (tidak makan tidak minum), tangan dan mulutnya tidak berhenti menyakiti sesama.

Bahkan kita menyaksikan ada sementara mereka yang bersemangat menegakkan kebenaran dan beramar-makruf-nahimunkar, tak berdaya menahan mulut atau tangan kasarnya untuk melukai orang yang mereka anggap tidak benar dan munkar. Seolah-olah mereka sudah tahu persis bahwa di sisi Allah kedudukan mereka jauh lebih dekat dari pada orang yang mereka lukai. Mungkin mereka inilah orang-orang yang --menurut istilahnya rektor UMM, Muhadjir Effendy-- termasuk kaum fakir moral yang perlu disantuni.

Nah, kemarin, orang-orang muslim tanpa kecuali, digembleng dalam kesucian bulan Ramadan untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang mampu menahan bahkan menguasai diri sendiri. Tidak mudah ditunggangi nafsu amarah maupun syahwat hewani. Sehingga ketika usai penggemblengan, mereka –terutama yang belum mati hatinya-- menang dan dapat mencapai predikat takwa sebagai buah puasa yang sesungguhnya (seperti disebutkan dalam Q. 2: 183) dan karenanya pantas bergembira, merayakan kefitriannya kembali.

Mereka yang berpredikat takwa, antara lain disebut-perikan dalam ayat-ayat 134-135 surah 3. Ali Imran sebagai orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit; yang mampu menahan amarah; yang pemaaf terhadap orang –Allah menyukai mereka yang berbuat kebajikan—dan apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan tidak terus mengulangi perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Mereka inilah yang mendapatkan sebaik-baik pahala: maghfirah dari Allah dan sorga.

Mudah-mudahan, di samping mendapatkan kekuatan diri sebagai hasil latihan dan gemblengan di bulan suci Ramadan kemarin, kita mendapatkan ampunan Allah sebagai balasan puasa dan ibadah kita yang ikhlas lillahi ta'alaa. Keduanya bisalah kiranya menjadi modal bagi kita untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya. Untuk itu marilah kita awali dengan silaturahmi dan saling memaafkan, agar sempurnalah kesucian diri ini. Diampuni Allah dan dimaafkan oleh sesama hamba Allah.

Saat Idul Fitri kita bisa berkumpul bersama keluarga, setelah lama tidak bertemu, lama tidak bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa, menyimpan rasa bersalah, kita bisa kembali bertemu, kembali bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa dan menyampaikan kata maaf atas semua kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja.

Kata-kata Minal Aidin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan bathin pun keluar dari mulut kita disertai dengan salam dan sungkem kepada orang tua, kakak, kakek, nenek, saat berkumpul di dalam keluarga besar maupun kepada tetangga saat melakukan halal bi halal di hari lebaran.

Berhalal bihalal di hari lebaran merupakan suatu bentuk aktivitas mengantarkan kita untuk meluruskan segala sesuatu yang pernah terjadi dan juga menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram yang terjadi karena lama tak berkunjung kepada seseorang atau sikap tak adil yang kita ambil namun menyakitkan orang lain sehingga timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman. Namun, semakin banyak dan seringnya kita mengulurkan tangan dan melapangkan dada dan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan kita terhadap hakikat halal bihalal. Keceriaan dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga saat lebaran, sangat memberikan makna bagi kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Dulu sebelum Idul Fitri, yang sempet ngambek sama ortu gara-gara sekali nggak dikasih uang jajan, terus merajuk dan setiap disuruh ortu selalu dibantah dan ditolak, namun saat lebaran kembali tidak ngambek dan mau disuruh ortu cuci piring karena sudah dikasih THR dan dibeliin baju lebaran.

Masih inget nggak, waktu rebutan mainan sama adik maupun kakak di rumah, gara-gara rebutan mainan, sama kakak maupun adik jadi bertengkar dan nggak mau cakapan, setiap berpapasan saling buang muka, akhirnya saling dendam satu dengan lainnya. Namun di hari lebaran nan fitri ini, kakak dan adik sudah baikan dan sudah saling memaafkan.

Apalagi dalam Al Qur'an disebutkan, salah satu sifat mulia yang dianjurkan adalah sikap memaafkan, Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur'an, 7:199). Sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22).

Makna Ramadhan dan Idul Fitri

Tahu nggak, di hari raya Idul Fitri ini, kita harus selalu instrospeksi diri dan mempelajari makna Ramadhan dan Idul Fitri yang baru berlalu. Idul Fitri merupakan sarana maupun jembatan menuju kerukunan dan keharmonisan antar umat muslim di seluruh dunia pada umumnya dan keharmonisan keluarga pada khususnya. Dalam hari raya Idul Fitri, kita diajak menciptakan hubungan keluarga dalam suasana yang tenteram sehingga memberikan ketenteraman jiwa, kedamaian hati dan kesejahteraan untuk seisi rumah, lahir dan bathin dengan kasih sayang.

Coba kita renungkan, betapa indahnya Idul Fitri ini,usai shalat Ied di masjid-masjid maupun di lapangan terbuka, seluruh umat muslim saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Semuanya telah melupakan, dendam, permusuhan, percekcokan, pertengkaran dan sebagainya. Semuanya terlihat begitu rukun, damai, tentram dengan senyum nan ceria dengan keikhlasan hati. Setelah pulang ke rumah, kita kembali bersalam-salaman, dengan keluarga, ayah, ibu, kakak, abang adik dan keluarga serta tetangga lainnya.

Setelah berkumpul dan bermaaf-maafan bersama ortu, kakak dan adik, kita juga saling mengunjungi sanak-saudara, famili, tetangga dan sebagainya. Di sini tanpa kita sadari, kita telah menjalin ukhuwah islamiah, mempererat tali silaturrahmi dan menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan kerukunan antar umat muslim seutuhnya.

Ini semuanya kita dapatkan dari nilai-nilai dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan penuh. Di dalam puasa Ramadhan kemarin, kita mendapatkan nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan selama Ramadhan yang diisi dengan kegiatan-kegiatan amal dan ibadah seperti pesantren kilat, sedekah, tarawih, tadarus, berzakat dan lain sebagainya. Selain itu, dari puasa kita mendapatkan manfaat lahiriah seperti pemulihan kesehatan (terutama pencernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Begitu juga dengan aspek spiritualitas, puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq.

Mudah-mudahan di hari yang fitri ini, kita bisa mengambil hikmah yang ada dengan saling menjaga kerukunan antar umat muslim dan menjaga keharmonisan keluarga yang sudah tercipta. Semoga hari-hari yang lain bisa menjadi hari-hari lebaran bagi kita semua yang saling menghormati, menyayangi dan menyantuni serta saling memaafkan, tanpa dendam, tanpa percekcokan, tanpa perkelahian dan selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Selamat Hari Raya Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. *Wakullu 'aamin wa antum bikhair..*

Selasa, 01 September 2009

Ramadhan; Sayyidus Syuhur ; Syahrut Tarbiyah




Ramadhan; Syahrut Tarbiyah

Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan)??

Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT. dan diajarkan oleh-Nya supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.

Tarbiyah adalah sarana yang sangat urgen bagi kehidupan insan dan umat, karena dengan tarbiyah akan lahir Syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (kepribadian islami yang utuh dan seimbang) yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaannya.

Dalam kontek tarbiyah itu sendiri; untuk menghasilkan kader-kader yang memiliki Syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (kepribadian islami yang utuh dan seimbang), maka manhaj tarbiyah harus mampu merealisasikan tujuan-tujuan berikut ini:

1. Memahami Islam sebagai manhaj atau pedoman hidup bagi Manusia yang bersifat syumiliyah (universal), mutawazinah (seimbang), mutakamilah (integral), alamiyah (global), murunah (fleksibel) dan waqi’iyyah (realistis) serta robbaniyyah (bersumber dari Allah).

2. Memiliki komitmen pada Islam dalam semua aspeknya; sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lainnya; sehingga semua nazhoriyah (teori) dapat teraplikasikan di dalam kehidupan yang nyata.

3. Memperhatikan kondisi obyektif masyarakat dalam hal aplikasi, komunikasi dan interaksi dengan prinsip-prinsip Islam. Semua itu harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, waktu dan tempat. Apakah dengan kaum muslimin ataukah dengan non muslim dan baik dalam ta’amul da’awi (interaksi da’wah) maupun ta’amul siyasi (interaksi politik).

Selain itu juga perlu dilihat apakah di dalam masyarakat yang mono-loyalitas ataukah multi-loyalitas; karena memang tidak mungkin mengaplikasikan Islam hanya dengan satu model. Oleh karena itu diperlukan ta-shil syari (pengokohan hukum syar’i’) dalam berinteraksi dengan orang lain (fiqhu ta’amul ma’al ghoir) dan manhaj tarbiyah haruslah dibuat di atas landasan ini.

4. Memperhatikan tanggung jawab tarbiyah. Dalam rangka mencetak kader da’wah dan generasi yang bisa bergaul dengan masyarakat luar; mampu mempengaruhi, menguasai dan tidak menganggap mereka sebagai musuh walaupun perlakuan mereka keras, kasar dan menyakitkan. Sebab da’i sejati dan aktivis yang sukses adalah justru orang yang mampu merekrut orang-orang yang sulit direkrut. Di sini nampak adanya perbedaan daya tarik dan kemampuan di antara para aktifis untuk menguasai dan merekrut massa.

Dalam bulan romadhan, Allah SWT ingin memberikan tarbiyah kepada kaum muslimin, agar tercetak sosok yang shalih, meningkat keimanannya, berakhlak dan berpengetahuan yang lurus serta komitmen di jalan da’wah untuk menggapai ridho Allah.

Istilah Ramadhan itu sendiri berasal dari kata ramadla-yarmudlu-ramadlan artinya panas membakar. Panas membakar ini bisa berasal dari sinar matahari. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka menamakan bulan-bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan bulan Ramadhan masa itu sedang melalui musim panas akibat sengatan terik matahari apalagi bagi pejalan kaki di atas padang pasir pada masa itu.

Ramadhan bermakna panas membakar juga di dasarkan karena perut orang-orang yang berpuasa tengah terbakar akibat menahan makan minum seharian. Panas membakar bulan Ramadhan bisa juga berarti karena bulan Ramadhan memberikan energi untuk membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Pada bulan yang sangat istimewa ini, terdapat sekian banyak wahana yang bisa dimanfaatkan dalam rangka penggemblengan dan pemanasan diri itu. Dari yang wajib seperti puasa dan zakat fitrah hingga yang sunaah seperti i’tikaf, tadarus, tarawih, sedekah, dan sebagainya. Dari yang berbentuk fisik seperti memberi makanan berbuka kepada fakir miskin hingga yang psikis seperti sabar, tawakal, amanah, jujur dan sebagainya.

Terlebih lagi bagi seorang da’i yang memiliki concern dalam aktivitas da’wah; sadar akan nilai-nilai Islam baik teori ataupun praktek, maka Ramadhan merupakan pusat tarbiyah as-syumuliyah dan mutamatsilah (pembinaan yang komprehensif dan terpadu), sehingga ketika melalui bulan ini sebelum terjun kelapangan memberikan perbaikan pada masyarakatnya, seorang da’i ditempa dirinya terlebih dahulu.

Secara garis besar dapat kita temui bahwa Ramadhan merupakan sarana tarbiyah yang meliputi :

1. Ramadhan merupakan sarana arbiyah Ruhiyah (pembinaan spiritual)

Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, selain merupakan kewajiban dan alasan diciptakannya manusia dan makhluk lainnya; juga merupakan sarana untuk membersihkan diri manusia itu sendiri dari kotoran dan dosa yang melumuri jiwa, sehingga tidak ada satu ibadahpun yang lepas dari arah tersebut; shalat misalnya merupakan sarana untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya merupakan sarana untuk membersihkan diri dan hartanya dari kotoran yang terdapat dalam hartanya, seperti yang tersirat dalam surat At-Taubah (9) ayat 103 dan Al-Lail (92) ayat 18.

Begitupun dengan bulan ramadhan yang di dalamnya terdapat ibadah puasa, berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (perbersihan jiwa), dimana orang yang berpuasa selain menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan melatih dirinya untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga diri dari ucapan kotor dan keji, sifat dengki dan hasad. Dan dalam ibadah puasa juga ada hikmah yang tinggi; memenangkan ruh ilahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.

2. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani)

Ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian hawa nafsu tapi juga membutuhkan kekuatan fisik, karenanya puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang kesehatannya tidak prima, seperti orang tua yang telah renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui serta orang yang sedang musafir (dalam perjalanan); yang mana kesemua itu merupakan keringanan (rukhsah) bagi mereka; karena ketidak mampuan, atau karena kesehatan janin dan bayi dan menjaga kesehatan bagi orang yang sedang musafir. (Lihat surat al-baqarah ayat 184). Selain itu juga dengan puasa dari segi kesehatan akan membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa endapan makanan, mengurangi kegemukan dan menenangkan kejiwaan atas aspek materil yang ada dalam diri manusia.

3. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)

Selain melatih diri, puasa juga memiliki sisi pendidikan sosial, apalagi dalam kewajiban puasa ramadlan, seluruh umat islam di dunia diwajibkan berpuasa, tanpa terkecuali; baik yang kaya atau miskin, pria atau wanita, kecuali bagi mereka yang ada udzur, disinilah letak pendidikan sosial, mereka sama dihadapan perintah Allah, sama dalam merasakan lapar dan dahaga, dan sama dalam ketundukan terhadap perintah Allah.

Puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, begitupun juga melahirkan kasih sayang kepada orang-orang miskin, sehingga orang-orang yang mampu dan kaya merasakan apa yang di derita oleh orang-orang fakir dan miskin dan mau memberi dari rizki yang Allah anugrahkan kepadanya. Sehingga dari sinilah di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas.

Sebagaimana dalam puasa ramadlan disunnahkan untuk memperbanyak sedekah karena sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan. Bersedekah bukan hanya memberi uang , tetapi termasuk di dalamnya memberi pertolongan, mengajak berbuka puasa kepada fakir miskin, memberi perhatian, bahkan memberi seulas senyum pun sudah termasuk suatu sedekah.

Jika konsep memberi -secara luas- ini diterapkan secara maksimal selama Ramadhan, maka akan luar biasa pengaruhnya pada pribadi kita. Sikap kikir menyingkir, sikap ketergantungan menghilang. Dengan memberi sedekah setahap demi setahap harga diri akan meningkat. Karena, sesungguhnya ketika kita memberi, seseorang akan memperoleh. Dengan demikian, dalam konsep memberi terkandung esensi cinta-kasih.

Adanya kewajiban Zakat fitrah (zakatul fitri) dalam bulan puasa ramadlan merupakan bukti lain adanya tarbiyah ijtima’iyah yang dibangun dalam bulan Ramadlan, yaitu zakat atau sedekah yang dihubungkan dengan Idul Fitri. Pada saat itu, tiap-tiap orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah berupa bahan makanan yang jumlahnya telah ditentukan, baik berupa gandum, beras, atau apa saja yang menjadi bahan makanan pokok daerah setempat, dan dihitung menurut jumlah keluarga, termasuk orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan.

Dan dalam berpuasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan solidaritas dalam kehidupan yang memilki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam. Perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari bahwa dengan adanya perbedaan tersebut kita (umat Islam) tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, dan membangun bangunan Islam agar lebih kokoh lagi, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, mencela, menuding dan menghina karena hanya permasalahan sepele dan furu’ saja.

4. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlak)

Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sabar dan jujur serta tegar terahadap segala ujian dan cobaan, hal ini terlihat dari arahan Rasulullah Saw. dalam meriwayatkan Hadits Qudsi bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan akhlak yang buruk. Segala tingkah lakunya harus bercermin pada budi yang luhur. Ia wajib menjaga diri, jangan sampai melakukan ghibah (mempergunjingkan diri orang lain, gosip), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah berkenan menerima puasanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:



“Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah: “Aku ini sungguh sedang puasa”. Dalam hadits lain disebutkan: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta, dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Mengenai hadits yang terakhir, Al’Allamah Asy-Syaukani berkata: “Menurut Ibnu Bathal, maksud hadits di atas bukan berarti orang itu disuruh meninggalkan puasa, tetapi merupakan peringatan agar jangan berkata bohong atau melakukan perbuatan yang memuat dusta. Sedangkan menurut Ibnu Arabi, maksud hadits ini ialah bahwa puasa seperti itu tidak berpahala. Dan berdasarkan hadits ini, Ibnu ‘arabi mengatakan pula bahwa perbuatan-perbuatan buruk tersebut di atas dapat mengurangi pahala puasa



5. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah jihadiyah

Puasa juga merupakan sarana dalam menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa setiap muslim, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang. Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad yang nyata, karenanya peperangan yang terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya kebanyakan di bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, karena dengan puasa hati terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding hari-hari dan bulan-bulan yang lain, walaupun pada dasarnya Rasulullah saw dan sahabatnya tidak pernah merasa jauh dari Allah SWT. Dan bukan karena berpuasa orang lalu boleh bermalas-malasan atau tidur-tiduran. Namun yang lebih utama adalah kegiatan dan aktivitas orang yang berpuasa tidak kendor dan berkurang karena alasan sedang berpuasa, namun sebaliknya harus lebih ditingkatkan lagi, karena ganjaran orang yang melakukan kebaikan saat puasa ramadlan bahwa pahalanya akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat oleh Allah. Karena itu Allah SWT berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dijalan kami maka Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami (jalan yang lurus)” (QS. 29 ayat 69)

Dan puncak tarbiyah yang dapat di raih oleh seorang muslim pada bulan ramadhan adalah mencapai maqam taqwa disisi Allah SWT, sebagaimana yang telah difirmankan Allah dipenutup perintah-Nya untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan qalb (hati) dan jasad (jasmani) terjaga.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Download Raihan

Raihan

1. Senyum
Raihan - Senyum.mp3

2. Thank You Allah
Raihan - Thank You Allah.mp3

3. Bismillah
Raihan - Bismillah.mp3

4. Ashabul Kahfi
Raihan - Ashabul Kahfi.MP3

5. Rakan_Selawat__Maulid
Raihan - Puji-Pujian 1997 - 08 - Rakan Selawat (Maulid).mp3

9. 99 Names
Raihan - 99 Names.mp3

10. Satu Pagi Di Hari Raya
Raihan & NowSeeHeart - Satu Pagi Di Hari Raya.mp3

11. Kau Yang Satu
Raihan ft Ramli Sarip - Kau Yang Satu.mp3

12. Cahaya Selawat
Raihan - Cahaya Selawat.mp3

13. Peristiwa Subuh
Raihan - Peristiwa Subuh.mp3

14. Iman Mutiara
RAIHAN Puji-Pujian - Iman Mutiara.mp3

15. Kehidupan
In-Team - Kehidupan (duet bersama Nazrey Raihan).mp3

16. Dari Tuhan
Raihan & Awie - Dari Tuhan.mp3

17. Mengemis Kasih
Raihan - Mengemis Kasih.mp3

18. Allahu
Raihan - Allahu.mp3

19. Untuk Mu Palestina
Raihan - Untuk Mu Palestin.mp3

20. Ababil
Raihan - Ababil.mp3

21. Haji Menuju Allah
Raihan - Haji Menuju Allah.mp3

22. Harapan_Ramadhan
Raihan_Manbai_Harapan_Ramadhan.mp3

23. Raihan Zikir
Raihan - Dikir Raihan Zikir.mp3

24. Lebaran Ini
Raihan, Rem, Ajai & NowSeeHeart - Lebaran Ini.mp3

25. Damba Cinta Mu
Raihan - Damba Cinta Mu.mp3

26. Balada Selawat
Raihan - Balada Selawat.mp3

27. Kasih sayang
Raihan - Demi Masa 2001 - 03 - Kasih sayang.mp3

28. 25 rasul
Raihan - 25 rasul.mp3

29. Ching Ai Ching Ai
Raihan - Ching Ai Ching Ai.mp3

30. Permaisuri Hatiku
Raihan, in-team, rabbani, hijjaz - permaisuri hatiku.mp3

KELUARGA SAKINAH


Baitijannati – Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab Kabul, saat itulah segala sesuatu yang haram menjadi halal. Dan bagi orang yang telah menikah dia telah menguasai separuh agamanya.

Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].

Sebuah rumah tangga bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, dinding, genteng, kusen, pintu berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pintu digunakan sebagai pengganti maka rumah akan bocor, atau salah fungsi yang lain maka rumah akan ambruk. Begitu juga rumah tangga suami, istri dan anak harus tahu fungsi masing-masing, jika tidak maka bisa ambruk atau berantakan rumah tangga tersebut.

Mari kita telaah satu persatu masing-masing fungsi suami dan istri tersebut.


Kewajiban Suami

Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).

Suami juga harus mempergauli istrinya dengan baik:

Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).

Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri].

Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.

Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].

Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].


Kewajiban Istri

Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa'i].

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).

Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).

Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].

Perselisihan

Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,

Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).

Apakah sakinah yang sering kita dengar sebagai impian dari para wanita muslimah itu sebenarnya?, serta bagaimana caranya agar keluarga sakinah tersebut dapat diwujudkan?.

Sebagaimana seringnya saya dengar keinginan berwira usaha setelah selesainya masa-masa pendidikan, sesering itu pula terdengar keinginan menikah yang sakinah, mawahdah wa rahmah, kedua-dua keinginan tersebut memang tidaklah berlebihan, mengingat masa depan yang cemerlang tentulah menjadi tujuan hampir semua orang, hanya saja yang saya khawatirkan adalah pernyataan-pernyataan tersebut terlontar dengan begitu ringan, seakan bukanlah suatu hal yang seharusnya disadari betapa sulitnya hal tersebut.

Sebagai contoh, keinginan wira usaha bagi siswa yang sama sekali belum pernah bekerja, adalah sebuah mimpi disiang bolong, betapa tidak, bila selagi menjadi siswa saja untuk tugas yang harus dikerjakan masih harus diingatkan terus menerus, bagaimana mungkin saat nantinya dia bekerja, dapat mengerjakan tugasnya tanpa harus digebrak-gebrak oleh atasannya, pekerjaan harus diberi atau ditunjukan, selama mengerjakan harus diawasi tanpa berkedip, harus diingatkan terus pada tenggat waktu serta target.

Sungguh jauh sekali dengan wira usaha yang menuntut seseorang untuk mencari sendiri apa yang harus dikerjakannya, menentukan tenggat waktu serta targetnya sendiri, juga harus mengerjakannya sendiri dengan sebaik-baiknya, betapa hal tersebut tentunya tidaklah terbayangkan bagaimana tingkat kesulitannya.

Demikian sulitnya ber wira usaha, kiranya tidak jauh pula bedanya dengan mewujudkan pernikahan yang sakinah, masih terlalu banyak yang menganggap bahwa pernikahan adalah sah nya hubungan badan serta dapat mempunyai anak yang tidak haram, bukannya sebagai suatu tugas membina hubungan yang harmonis, sekaligus melanjutkan keturunan dengan anak-anak yang soleh, solehah serta berbakti.

Seringkali seorang laki-laki yang merasa soleh dengan bekal agamanya lalu menikah dengan seorang wanita yang juga merasa demikian, lalu dengan serta merta jadilah keluarga yang sakinah, sudah sangat seringkali kita diingatkan oleh suatu kata-kata yang terlihat sepele atau bahkan mungkin di sepelekan, yaitu sabar, sabarlah yang menjadi inti sebenarnya dalam kehidupan soleh ataupun solehah.

Banyak sudah yang sudah berusaha dengan berbekal memaksakan diri kepada aturan main ataupun kepada syariat untuk mewujudkan keluarga yang sakinah tersebut tidak mendapatkan hasil seperti apa yang diharapkan, sebab suatu pemaksaan yang dikamuflasekan sebagai disiplin hanyalah akan menjadikan tumpukan-tumpukan pemberontakan hati manusia, yang sebenarnya malah menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Tanpa pengolahan kesabaran yang menghasilkan tawadlu, tidaklah mungkin dapat diwujudkan kondisi jiwa yang tenang, tentram serta aman, yang dapat dikatakan sebagai jiwa yang sakinah, tanpa jiwa yang sakinah tersebut tentunya tidaklah mungkin dapat terwujudkan suatu keluarga yang sakinah tentunya.

Seorang laki-laki muslim yang berjiwa sakinah menikahi seorang wanita muslimah yang berjiwa sakinah pula, maka jadilah pasangan suami istri yang sakinah, sedikitnya salah satu dari pasangan tersebut mempunyai jiwa yang sakinah, sehingga dapat memberi serta membina pasangannya kearah jiwa yang sakinah juga, tentunya masih ada harapan menjadi pasangan yang sakinah.

Tetapi bagi wanita muslimah yang ingin berjiwa sakinah, dikarenakan dibandingkan laki-laki, jauh lebih banyak wanita muslimah yang memimpikan keluarga sakinah tersebut, ada beberapa ancaman penghancur jiwa sakinah yang sangat berbahaya, diantaranya adalah, cemburu dan curiga karena kurang mempercayai pasangannya, labilnya emosi saat datang bulan, berita-berita ghibah yang meresahkan dan yang paling-paling merusak adalah ancaman poligami.

Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam.