Sabtu, 19 September 2009

Hari Raya Idul Fitri 1430 H.



Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .

Kaum muslimin yang kemarin berpuasa –dalam pengertian tidak hanya mengekang nafsu makan dan kelamin— sudah sepantasnya merayakan hari raya Fitri. Memang inilah hari raya mereka.

Setelah sebulan penuh di bulan suci, mensucikan diri dan berlatih menguasai diri, sudah sepantasnya mereka bergembira ria dalam syukur hamba yang 'menang'. Apakah syukur itu diungkapkan dalam ritual mudik, saling mengunjungi, atau yang lain.

Muslim yang paling muslim, menurut Nabi Muhammad SAW, ialah *man salimal muslimuuna min lisaanihi wayadihi,* orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menyakiti sesama. Mukmin sejati ialah man aminannaasu min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang-orang lain. Orang mukmin bukanlah *biththa'aani walaa alla'aani walal faakhisyi walal badziyy*, orang yang suka melukai hati; bukan tukang melaknati; bukan orang yang suka omong kasar atau bicara kotor.

Menurut kenyataan, menjaga atau menahan mulut untuk tidak makan, tidak minum, atau bahkan tidak merokok, jauh lebih mudah dari pada menjaga dan menahannya dari omong kasar yang menyakitkan atau bicara kotor. Menjaga dan menahan tangan untuk tidak menyentuh makanan atau minuman, jauh lebih ringan dari menjaaga dan menahannya dari melukai sesama. Ini semua dibuktikan oleh adanya –kalau tidak banyaknya-- orang muslim yang dalam keadaan puasa (tidak makan tidak minum), tangan dan mulutnya tidak berhenti menyakiti sesama.

Bahkan kita menyaksikan ada sementara mereka yang bersemangat menegakkan kebenaran dan beramar-makruf-nahimunkar, tak berdaya menahan mulut atau tangan kasarnya untuk melukai orang yang mereka anggap tidak benar dan munkar. Seolah-olah mereka sudah tahu persis bahwa di sisi Allah kedudukan mereka jauh lebih dekat dari pada orang yang mereka lukai. Mungkin mereka inilah orang-orang yang --menurut istilahnya rektor UMM, Muhadjir Effendy-- termasuk kaum fakir moral yang perlu disantuni.

Nah, kemarin, orang-orang muslim tanpa kecuali, digembleng dalam kesucian bulan Ramadan untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang mampu menahan bahkan menguasai diri sendiri. Tidak mudah ditunggangi nafsu amarah maupun syahwat hewani. Sehingga ketika usai penggemblengan, mereka –terutama yang belum mati hatinya-- menang dan dapat mencapai predikat takwa sebagai buah puasa yang sesungguhnya (seperti disebutkan dalam Q. 2: 183) dan karenanya pantas bergembira, merayakan kefitriannya kembali.

Mereka yang berpredikat takwa, antara lain disebut-perikan dalam ayat-ayat 134-135 surah 3. Ali Imran sebagai orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit; yang mampu menahan amarah; yang pemaaf terhadap orang –Allah menyukai mereka yang berbuat kebajikan—dan apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan tidak terus mengulangi perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Mereka inilah yang mendapatkan sebaik-baik pahala: maghfirah dari Allah dan sorga.

Mudah-mudahan, di samping mendapatkan kekuatan diri sebagai hasil latihan dan gemblengan di bulan suci Ramadan kemarin, kita mendapatkan ampunan Allah sebagai balasan puasa dan ibadah kita yang ikhlas lillahi ta'alaa. Keduanya bisalah kiranya menjadi modal bagi kita untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya. Untuk itu marilah kita awali dengan silaturahmi dan saling memaafkan, agar sempurnalah kesucian diri ini. Diampuni Allah dan dimaafkan oleh sesama hamba Allah.

Saat Idul Fitri kita bisa berkumpul bersama keluarga, setelah lama tidak bertemu, lama tidak bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa, menyimpan rasa bersalah, kita bisa kembali bertemu, kembali bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa dan menyampaikan kata maaf atas semua kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja.

Kata-kata Minal Aidin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan bathin pun keluar dari mulut kita disertai dengan salam dan sungkem kepada orang tua, kakak, kakek, nenek, saat berkumpul di dalam keluarga besar maupun kepada tetangga saat melakukan halal bi halal di hari lebaran.

Berhalal bihalal di hari lebaran merupakan suatu bentuk aktivitas mengantarkan kita untuk meluruskan segala sesuatu yang pernah terjadi dan juga menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram yang terjadi karena lama tak berkunjung kepada seseorang atau sikap tak adil yang kita ambil namun menyakitkan orang lain sehingga timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman. Namun, semakin banyak dan seringnya kita mengulurkan tangan dan melapangkan dada dan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan kita terhadap hakikat halal bihalal. Keceriaan dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga saat lebaran, sangat memberikan makna bagi kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Dulu sebelum Idul Fitri, yang sempet ngambek sama ortu gara-gara sekali nggak dikasih uang jajan, terus merajuk dan setiap disuruh ortu selalu dibantah dan ditolak, namun saat lebaran kembali tidak ngambek dan mau disuruh ortu cuci piring karena sudah dikasih THR dan dibeliin baju lebaran.

Masih inget nggak, waktu rebutan mainan sama adik maupun kakak di rumah, gara-gara rebutan mainan, sama kakak maupun adik jadi bertengkar dan nggak mau cakapan, setiap berpapasan saling buang muka, akhirnya saling dendam satu dengan lainnya. Namun di hari lebaran nan fitri ini, kakak dan adik sudah baikan dan sudah saling memaafkan.

Apalagi dalam Al Qur'an disebutkan, salah satu sifat mulia yang dianjurkan adalah sikap memaafkan, Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur'an, 7:199). Sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22).

Makna Ramadhan dan Idul Fitri

Tahu nggak, di hari raya Idul Fitri ini, kita harus selalu instrospeksi diri dan mempelajari makna Ramadhan dan Idul Fitri yang baru berlalu. Idul Fitri merupakan sarana maupun jembatan menuju kerukunan dan keharmonisan antar umat muslim di seluruh dunia pada umumnya dan keharmonisan keluarga pada khususnya. Dalam hari raya Idul Fitri, kita diajak menciptakan hubungan keluarga dalam suasana yang tenteram sehingga memberikan ketenteraman jiwa, kedamaian hati dan kesejahteraan untuk seisi rumah, lahir dan bathin dengan kasih sayang.

Coba kita renungkan, betapa indahnya Idul Fitri ini,usai shalat Ied di masjid-masjid maupun di lapangan terbuka, seluruh umat muslim saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Semuanya telah melupakan, dendam, permusuhan, percekcokan, pertengkaran dan sebagainya. Semuanya terlihat begitu rukun, damai, tentram dengan senyum nan ceria dengan keikhlasan hati. Setelah pulang ke rumah, kita kembali bersalam-salaman, dengan keluarga, ayah, ibu, kakak, abang adik dan keluarga serta tetangga lainnya.

Setelah berkumpul dan bermaaf-maafan bersama ortu, kakak dan adik, kita juga saling mengunjungi sanak-saudara, famili, tetangga dan sebagainya. Di sini tanpa kita sadari, kita telah menjalin ukhuwah islamiah, mempererat tali silaturrahmi dan menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan kerukunan antar umat muslim seutuhnya.

Ini semuanya kita dapatkan dari nilai-nilai dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan penuh. Di dalam puasa Ramadhan kemarin, kita mendapatkan nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan selama Ramadhan yang diisi dengan kegiatan-kegiatan amal dan ibadah seperti pesantren kilat, sedekah, tarawih, tadarus, berzakat dan lain sebagainya. Selain itu, dari puasa kita mendapatkan manfaat lahiriah seperti pemulihan kesehatan (terutama pencernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Begitu juga dengan aspek spiritualitas, puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq.

Mudah-mudahan di hari yang fitri ini, kita bisa mengambil hikmah yang ada dengan saling menjaga kerukunan antar umat muslim dan menjaga keharmonisan keluarga yang sudah tercipta. Semoga hari-hari yang lain bisa menjadi hari-hari lebaran bagi kita semua yang saling menghormati, menyayangi dan menyantuni serta saling memaafkan, tanpa dendam, tanpa percekcokan, tanpa perkelahian dan selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Selamat Hari Raya Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. *Wakullu 'aamin wa antum bikhair..*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar