Sabtu, 19 September 2009

Hari Raya Idul Fitri 1430 H.



Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .
Allahu Akbar . . .

Kaum muslimin yang kemarin berpuasa –dalam pengertian tidak hanya mengekang nafsu makan dan kelamin— sudah sepantasnya merayakan hari raya Fitri. Memang inilah hari raya mereka.

Setelah sebulan penuh di bulan suci, mensucikan diri dan berlatih menguasai diri, sudah sepantasnya mereka bergembira ria dalam syukur hamba yang 'menang'. Apakah syukur itu diungkapkan dalam ritual mudik, saling mengunjungi, atau yang lain.

Muslim yang paling muslim, menurut Nabi Muhammad SAW, ialah *man salimal muslimuuna min lisaanihi wayadihi,* orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menyakiti sesama. Mukmin sejati ialah man aminannaasu min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang-orang lain. Orang mukmin bukanlah *biththa'aani walaa alla'aani walal faakhisyi walal badziyy*, orang yang suka melukai hati; bukan tukang melaknati; bukan orang yang suka omong kasar atau bicara kotor.

Menurut kenyataan, menjaga atau menahan mulut untuk tidak makan, tidak minum, atau bahkan tidak merokok, jauh lebih mudah dari pada menjaga dan menahannya dari omong kasar yang menyakitkan atau bicara kotor. Menjaga dan menahan tangan untuk tidak menyentuh makanan atau minuman, jauh lebih ringan dari menjaaga dan menahannya dari melukai sesama. Ini semua dibuktikan oleh adanya –kalau tidak banyaknya-- orang muslim yang dalam keadaan puasa (tidak makan tidak minum), tangan dan mulutnya tidak berhenti menyakiti sesama.

Bahkan kita menyaksikan ada sementara mereka yang bersemangat menegakkan kebenaran dan beramar-makruf-nahimunkar, tak berdaya menahan mulut atau tangan kasarnya untuk melukai orang yang mereka anggap tidak benar dan munkar. Seolah-olah mereka sudah tahu persis bahwa di sisi Allah kedudukan mereka jauh lebih dekat dari pada orang yang mereka lukai. Mungkin mereka inilah orang-orang yang --menurut istilahnya rektor UMM, Muhadjir Effendy-- termasuk kaum fakir moral yang perlu disantuni.

Nah, kemarin, orang-orang muslim tanpa kecuali, digembleng dalam kesucian bulan Ramadan untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang mampu menahan bahkan menguasai diri sendiri. Tidak mudah ditunggangi nafsu amarah maupun syahwat hewani. Sehingga ketika usai penggemblengan, mereka –terutama yang belum mati hatinya-- menang dan dapat mencapai predikat takwa sebagai buah puasa yang sesungguhnya (seperti disebutkan dalam Q. 2: 183) dan karenanya pantas bergembira, merayakan kefitriannya kembali.

Mereka yang berpredikat takwa, antara lain disebut-perikan dalam ayat-ayat 134-135 surah 3. Ali Imran sebagai orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit; yang mampu menahan amarah; yang pemaaf terhadap orang –Allah menyukai mereka yang berbuat kebajikan—dan apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan tidak terus mengulangi perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Mereka inilah yang mendapatkan sebaik-baik pahala: maghfirah dari Allah dan sorga.

Mudah-mudahan, di samping mendapatkan kekuatan diri sebagai hasil latihan dan gemblengan di bulan suci Ramadan kemarin, kita mendapatkan ampunan Allah sebagai balasan puasa dan ibadah kita yang ikhlas lillahi ta'alaa. Keduanya bisalah kiranya menjadi modal bagi kita untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya. Untuk itu marilah kita awali dengan silaturahmi dan saling memaafkan, agar sempurnalah kesucian diri ini. Diampuni Allah dan dimaafkan oleh sesama hamba Allah.

Saat Idul Fitri kita bisa berkumpul bersama keluarga, setelah lama tidak bertemu, lama tidak bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa, menyimpan rasa bersalah, kita bisa kembali bertemu, kembali bertatap muka, saling bicara, bertegur sapa dan menyampaikan kata maaf atas semua kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja.

Kata-kata Minal Aidin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan bathin pun keluar dari mulut kita disertai dengan salam dan sungkem kepada orang tua, kakak, kakek, nenek, saat berkumpul di dalam keluarga besar maupun kepada tetangga saat melakukan halal bi halal di hari lebaran.

Berhalal bihalal di hari lebaran merupakan suatu bentuk aktivitas mengantarkan kita untuk meluruskan segala sesuatu yang pernah terjadi dan juga menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram yang terjadi karena lama tak berkunjung kepada seseorang atau sikap tak adil yang kita ambil namun menyakitkan orang lain sehingga timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman. Namun, semakin banyak dan seringnya kita mengulurkan tangan dan melapangkan dada dan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan kita terhadap hakikat halal bihalal. Keceriaan dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga saat lebaran, sangat memberikan makna bagi kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Dulu sebelum Idul Fitri, yang sempet ngambek sama ortu gara-gara sekali nggak dikasih uang jajan, terus merajuk dan setiap disuruh ortu selalu dibantah dan ditolak, namun saat lebaran kembali tidak ngambek dan mau disuruh ortu cuci piring karena sudah dikasih THR dan dibeliin baju lebaran.

Masih inget nggak, waktu rebutan mainan sama adik maupun kakak di rumah, gara-gara rebutan mainan, sama kakak maupun adik jadi bertengkar dan nggak mau cakapan, setiap berpapasan saling buang muka, akhirnya saling dendam satu dengan lainnya. Namun di hari lebaran nan fitri ini, kakak dan adik sudah baikan dan sudah saling memaafkan.

Apalagi dalam Al Qur'an disebutkan, salah satu sifat mulia yang dianjurkan adalah sikap memaafkan, Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur'an, 7:199). Sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22).

Makna Ramadhan dan Idul Fitri

Tahu nggak, di hari raya Idul Fitri ini, kita harus selalu instrospeksi diri dan mempelajari makna Ramadhan dan Idul Fitri yang baru berlalu. Idul Fitri merupakan sarana maupun jembatan menuju kerukunan dan keharmonisan antar umat muslim di seluruh dunia pada umumnya dan keharmonisan keluarga pada khususnya. Dalam hari raya Idul Fitri, kita diajak menciptakan hubungan keluarga dalam suasana yang tenteram sehingga memberikan ketenteraman jiwa, kedamaian hati dan kesejahteraan untuk seisi rumah, lahir dan bathin dengan kasih sayang.

Coba kita renungkan, betapa indahnya Idul Fitri ini,usai shalat Ied di masjid-masjid maupun di lapangan terbuka, seluruh umat muslim saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Semuanya telah melupakan, dendam, permusuhan, percekcokan, pertengkaran dan sebagainya. Semuanya terlihat begitu rukun, damai, tentram dengan senyum nan ceria dengan keikhlasan hati. Setelah pulang ke rumah, kita kembali bersalam-salaman, dengan keluarga, ayah, ibu, kakak, abang adik dan keluarga serta tetangga lainnya.

Setelah berkumpul dan bermaaf-maafan bersama ortu, kakak dan adik, kita juga saling mengunjungi sanak-saudara, famili, tetangga dan sebagainya. Di sini tanpa kita sadari, kita telah menjalin ukhuwah islamiah, mempererat tali silaturrahmi dan menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan kerukunan antar umat muslim seutuhnya.

Ini semuanya kita dapatkan dari nilai-nilai dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan penuh. Di dalam puasa Ramadhan kemarin, kita mendapatkan nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan selama Ramadhan yang diisi dengan kegiatan-kegiatan amal dan ibadah seperti pesantren kilat, sedekah, tarawih, tadarus, berzakat dan lain sebagainya. Selain itu, dari puasa kita mendapatkan manfaat lahiriah seperti pemulihan kesehatan (terutama pencernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Begitu juga dengan aspek spiritualitas, puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq.

Mudah-mudahan di hari yang fitri ini, kita bisa mengambil hikmah yang ada dengan saling menjaga kerukunan antar umat muslim dan menjaga keharmonisan keluarga yang sudah tercipta. Semoga hari-hari yang lain bisa menjadi hari-hari lebaran bagi kita semua yang saling menghormati, menyayangi dan menyantuni serta saling memaafkan, tanpa dendam, tanpa percekcokan, tanpa perkelahian dan selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Selamat Hari Raya Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. *Wakullu 'aamin wa antum bikhair..*

Selasa, 01 September 2009

Ramadhan; Sayyidus Syuhur ; Syahrut Tarbiyah




Ramadhan; Syahrut Tarbiyah

Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan)??

Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT. dan diajarkan oleh-Nya supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.

Tarbiyah adalah sarana yang sangat urgen bagi kehidupan insan dan umat, karena dengan tarbiyah akan lahir Syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (kepribadian islami yang utuh dan seimbang) yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaannya.

Dalam kontek tarbiyah itu sendiri; untuk menghasilkan kader-kader yang memiliki Syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (kepribadian islami yang utuh dan seimbang), maka manhaj tarbiyah harus mampu merealisasikan tujuan-tujuan berikut ini:

1. Memahami Islam sebagai manhaj atau pedoman hidup bagi Manusia yang bersifat syumiliyah (universal), mutawazinah (seimbang), mutakamilah (integral), alamiyah (global), murunah (fleksibel) dan waqi’iyyah (realistis) serta robbaniyyah (bersumber dari Allah).

2. Memiliki komitmen pada Islam dalam semua aspeknya; sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lainnya; sehingga semua nazhoriyah (teori) dapat teraplikasikan di dalam kehidupan yang nyata.

3. Memperhatikan kondisi obyektif masyarakat dalam hal aplikasi, komunikasi dan interaksi dengan prinsip-prinsip Islam. Semua itu harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, waktu dan tempat. Apakah dengan kaum muslimin ataukah dengan non muslim dan baik dalam ta’amul da’awi (interaksi da’wah) maupun ta’amul siyasi (interaksi politik).

Selain itu juga perlu dilihat apakah di dalam masyarakat yang mono-loyalitas ataukah multi-loyalitas; karena memang tidak mungkin mengaplikasikan Islam hanya dengan satu model. Oleh karena itu diperlukan ta-shil syari (pengokohan hukum syar’i’) dalam berinteraksi dengan orang lain (fiqhu ta’amul ma’al ghoir) dan manhaj tarbiyah haruslah dibuat di atas landasan ini.

4. Memperhatikan tanggung jawab tarbiyah. Dalam rangka mencetak kader da’wah dan generasi yang bisa bergaul dengan masyarakat luar; mampu mempengaruhi, menguasai dan tidak menganggap mereka sebagai musuh walaupun perlakuan mereka keras, kasar dan menyakitkan. Sebab da’i sejati dan aktivis yang sukses adalah justru orang yang mampu merekrut orang-orang yang sulit direkrut. Di sini nampak adanya perbedaan daya tarik dan kemampuan di antara para aktifis untuk menguasai dan merekrut massa.

Dalam bulan romadhan, Allah SWT ingin memberikan tarbiyah kepada kaum muslimin, agar tercetak sosok yang shalih, meningkat keimanannya, berakhlak dan berpengetahuan yang lurus serta komitmen di jalan da’wah untuk menggapai ridho Allah.

Istilah Ramadhan itu sendiri berasal dari kata ramadla-yarmudlu-ramadlan artinya panas membakar. Panas membakar ini bisa berasal dari sinar matahari. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka menamakan bulan-bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan bulan Ramadhan masa itu sedang melalui musim panas akibat sengatan terik matahari apalagi bagi pejalan kaki di atas padang pasir pada masa itu.

Ramadhan bermakna panas membakar juga di dasarkan karena perut orang-orang yang berpuasa tengah terbakar akibat menahan makan minum seharian. Panas membakar bulan Ramadhan bisa juga berarti karena bulan Ramadhan memberikan energi untuk membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Pada bulan yang sangat istimewa ini, terdapat sekian banyak wahana yang bisa dimanfaatkan dalam rangka penggemblengan dan pemanasan diri itu. Dari yang wajib seperti puasa dan zakat fitrah hingga yang sunaah seperti i’tikaf, tadarus, tarawih, sedekah, dan sebagainya. Dari yang berbentuk fisik seperti memberi makanan berbuka kepada fakir miskin hingga yang psikis seperti sabar, tawakal, amanah, jujur dan sebagainya.

Terlebih lagi bagi seorang da’i yang memiliki concern dalam aktivitas da’wah; sadar akan nilai-nilai Islam baik teori ataupun praktek, maka Ramadhan merupakan pusat tarbiyah as-syumuliyah dan mutamatsilah (pembinaan yang komprehensif dan terpadu), sehingga ketika melalui bulan ini sebelum terjun kelapangan memberikan perbaikan pada masyarakatnya, seorang da’i ditempa dirinya terlebih dahulu.

Secara garis besar dapat kita temui bahwa Ramadhan merupakan sarana tarbiyah yang meliputi :

1. Ramadhan merupakan sarana arbiyah Ruhiyah (pembinaan spiritual)

Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, selain merupakan kewajiban dan alasan diciptakannya manusia dan makhluk lainnya; juga merupakan sarana untuk membersihkan diri manusia itu sendiri dari kotoran dan dosa yang melumuri jiwa, sehingga tidak ada satu ibadahpun yang lepas dari arah tersebut; shalat misalnya merupakan sarana untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya merupakan sarana untuk membersihkan diri dan hartanya dari kotoran yang terdapat dalam hartanya, seperti yang tersirat dalam surat At-Taubah (9) ayat 103 dan Al-Lail (92) ayat 18.

Begitupun dengan bulan ramadhan yang di dalamnya terdapat ibadah puasa, berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (perbersihan jiwa), dimana orang yang berpuasa selain menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan melatih dirinya untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga diri dari ucapan kotor dan keji, sifat dengki dan hasad. Dan dalam ibadah puasa juga ada hikmah yang tinggi; memenangkan ruh ilahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.

2. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani)

Ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian hawa nafsu tapi juga membutuhkan kekuatan fisik, karenanya puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang kesehatannya tidak prima, seperti orang tua yang telah renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui serta orang yang sedang musafir (dalam perjalanan); yang mana kesemua itu merupakan keringanan (rukhsah) bagi mereka; karena ketidak mampuan, atau karena kesehatan janin dan bayi dan menjaga kesehatan bagi orang yang sedang musafir. (Lihat surat al-baqarah ayat 184). Selain itu juga dengan puasa dari segi kesehatan akan membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa endapan makanan, mengurangi kegemukan dan menenangkan kejiwaan atas aspek materil yang ada dalam diri manusia.

3. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)

Selain melatih diri, puasa juga memiliki sisi pendidikan sosial, apalagi dalam kewajiban puasa ramadlan, seluruh umat islam di dunia diwajibkan berpuasa, tanpa terkecuali; baik yang kaya atau miskin, pria atau wanita, kecuali bagi mereka yang ada udzur, disinilah letak pendidikan sosial, mereka sama dihadapan perintah Allah, sama dalam merasakan lapar dan dahaga, dan sama dalam ketundukan terhadap perintah Allah.

Puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, begitupun juga melahirkan kasih sayang kepada orang-orang miskin, sehingga orang-orang yang mampu dan kaya merasakan apa yang di derita oleh orang-orang fakir dan miskin dan mau memberi dari rizki yang Allah anugrahkan kepadanya. Sehingga dari sinilah di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas.

Sebagaimana dalam puasa ramadlan disunnahkan untuk memperbanyak sedekah karena sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan. Bersedekah bukan hanya memberi uang , tetapi termasuk di dalamnya memberi pertolongan, mengajak berbuka puasa kepada fakir miskin, memberi perhatian, bahkan memberi seulas senyum pun sudah termasuk suatu sedekah.

Jika konsep memberi -secara luas- ini diterapkan secara maksimal selama Ramadhan, maka akan luar biasa pengaruhnya pada pribadi kita. Sikap kikir menyingkir, sikap ketergantungan menghilang. Dengan memberi sedekah setahap demi setahap harga diri akan meningkat. Karena, sesungguhnya ketika kita memberi, seseorang akan memperoleh. Dengan demikian, dalam konsep memberi terkandung esensi cinta-kasih.

Adanya kewajiban Zakat fitrah (zakatul fitri) dalam bulan puasa ramadlan merupakan bukti lain adanya tarbiyah ijtima’iyah yang dibangun dalam bulan Ramadlan, yaitu zakat atau sedekah yang dihubungkan dengan Idul Fitri. Pada saat itu, tiap-tiap orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah berupa bahan makanan yang jumlahnya telah ditentukan, baik berupa gandum, beras, atau apa saja yang menjadi bahan makanan pokok daerah setempat, dan dihitung menurut jumlah keluarga, termasuk orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan.

Dan dalam berpuasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan solidaritas dalam kehidupan yang memilki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam. Perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari bahwa dengan adanya perbedaan tersebut kita (umat Islam) tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, dan membangun bangunan Islam agar lebih kokoh lagi, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, mencela, menuding dan menghina karena hanya permasalahan sepele dan furu’ saja.

4. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlak)

Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang mulia dan terpuji, sabar dan jujur serta tegar terahadap segala ujian dan cobaan, hal ini terlihat dari arahan Rasulullah Saw. dalam meriwayatkan Hadits Qudsi bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan akhlak yang buruk. Segala tingkah lakunya harus bercermin pada budi yang luhur. Ia wajib menjaga diri, jangan sampai melakukan ghibah (mempergunjingkan diri orang lain, gosip), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah berkenan menerima puasanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:



“Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah: “Aku ini sungguh sedang puasa”. Dalam hadits lain disebutkan: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta, dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Mengenai hadits yang terakhir, Al’Allamah Asy-Syaukani berkata: “Menurut Ibnu Bathal, maksud hadits di atas bukan berarti orang itu disuruh meninggalkan puasa, tetapi merupakan peringatan agar jangan berkata bohong atau melakukan perbuatan yang memuat dusta. Sedangkan menurut Ibnu Arabi, maksud hadits ini ialah bahwa puasa seperti itu tidak berpahala. Dan berdasarkan hadits ini, Ibnu ‘arabi mengatakan pula bahwa perbuatan-perbuatan buruk tersebut di atas dapat mengurangi pahala puasa



5. Ramadhan merupakan sarana tarbiyah jihadiyah

Puasa juga merupakan sarana dalam menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa setiap muslim, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang. Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad yang nyata, karenanya peperangan yang terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya kebanyakan di bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, karena dengan puasa hati terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding hari-hari dan bulan-bulan yang lain, walaupun pada dasarnya Rasulullah saw dan sahabatnya tidak pernah merasa jauh dari Allah SWT. Dan bukan karena berpuasa orang lalu boleh bermalas-malasan atau tidur-tiduran. Namun yang lebih utama adalah kegiatan dan aktivitas orang yang berpuasa tidak kendor dan berkurang karena alasan sedang berpuasa, namun sebaliknya harus lebih ditingkatkan lagi, karena ganjaran orang yang melakukan kebaikan saat puasa ramadlan bahwa pahalanya akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat oleh Allah. Karena itu Allah SWT berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dijalan kami maka Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami (jalan yang lurus)” (QS. 29 ayat 69)

Dan puncak tarbiyah yang dapat di raih oleh seorang muslim pada bulan ramadhan adalah mencapai maqam taqwa disisi Allah SWT, sebagaimana yang telah difirmankan Allah dipenutup perintah-Nya untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan qalb (hati) dan jasad (jasmani) terjaga.