Jumat, 09 Desember 2011
Antara AKU, KAMI dan eksistensi-NYA
Senin, 07 November 2011
Idul Adha 1432 H
Penetapan Idul Adha
Sabtu, 29 Oktober 2011
Sahabat Nabi
Definisi
Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi'i pernah berkata:- "Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam"[1]
Identifikasi terhadap sahabat nabi, termasuk status dan tingkatannya merupakan hal yang penting dalam dunia Islam karena dapat digunakan untuk mengevaluasi keabsahan suatu hadits maupun perbuatan Nabi yang diriwayatkan oleh mereka.
Lihat pula: Hadits
Tingkatan Sahabat
Menurut al-Hakim dalam Mustadrak, Sahabat terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:- Para sahabat yang masuk Islam di Mekkah, sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafa'ur Rasyidin
- Para sahabat yang mengikuti majelis Darunnadwah
- Para sahabat yang ikut serta berhijrah ke negeri Habasyah
- Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Aqabah pertama
- Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Aqabah kedua
- Para sahabat yang berhijrah setelah sampainya Rasulullah ke Madinah
- Para sahabat yang ikut serta pada perang Badar
- Para sahabat yang berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah
- Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Ridhwan
- Para sahabat yang berhijrah antara perjanjian Hudaibiyyah dan fathu Makkah
- Para sahabat yang masuk Islam pada fathu Makkah,
- Bayi-bayi dan anak-anak yang pernah melihat Rasulullah saw pada fathu Makkah
Beberapa sahabat yang terkenal
Minggu, 23 Oktober 2011
Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!
Kedua pasien baru saja menjalani operasi. Meski sama-sama dirawat, ada dua hal yang membedakan kedua pasien tersebut.
Bedanya pasien pertama berteriak-teriak histeris tidak karuan, mengeluarkan kata-kata umpatan, caci-maki sampai kedua tangan tangannya dan kakinya harus diikat.
Sementara pasien kedua, ia juga mengalami rasa sakit yang hampir sama. Ia juga berteriak-teriak dengan suara nyaring namun isi teriakannya adalah adzan. Dokter yang menulis kisah ini terheran-heran dengan dua perilaku kedua pasien yang sedang ia tangani. Satunya teriak kotor dan satunya lagi mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Karena penasaran, sang dokter akhirnya bertanya kepada pihak keluarga. Jawabannya, pasien yang teriak adzan adalah seorang juru azan (bilal) di mushalla yang ada di dekat rumahnya, di mana ia saban waktu mengumandangkan shalat dan mengajak masyarakat sekitar untuk datang ke mushalla untuk shalat berjama`ah.
Adapun pasien satunya, dilihat dari rekam medisnya ternyata ia seorang peminum minuman keras yang mengalami kecelakaan usai menenggak minuman yang memabukkan.
Pengalaman sang dokter seperti kisah di atas saya kaitkan dengan kisah lainnya sebagaimana ditulis oleh Alwi Alatas dalam bukunya yang berjudul “Whatever Your Problem, Smile: (Apapun Masalahmu, Tersenyumlah).
Dalam buku ini, Alwi mengemukakan sebuah penelitian yang dilakukan olen seorang ahli tentang “Kaitan Relijiusitas dan Keimanan Seseorang dengan Rasa Sakit.”
Penelitian dilakukan kepada orang yang taat beragama, biasa pergi ke tempat ibadah, dan dekat dengan Tuhannya, adapun objek penelitian selanjutnya dikenakan pada orang yang tidak taat beragama, bahkan tidak sedikit yang tidak percaya Tuhan alias atheis.
Bagaimana cara melakukan penelitian?
Peneliti memasang alat di kepala mereka yang taat beragama dan yang tidak taat saat mengalami rasa sakit. Kemudian, mereka diberi aliran listrik untuk menimbukan efek sakit. Akibatnya, mereka sama-sama merasakan rasa sakit dari aliran listrik. Lalu, mereka dikondisikan dengan foto-foto tokoh yang mereka idolakan selama ini.
Orang-orang yang relijius diberi foto bergambar tokoh relijius, dan orang yang tidak relijius diberi foto tokoh yang mereka kagumi.
Ternyata, meski keduanya menunjukkan aktivitas menahan rasa sakit yang sangat, namun keadaannya jauh berbeda. Tingkat rasa sakit orang-orang yang tak relijius dan atheis tetap dalam volume tinggi. Sementara, rasa sakit yang dialami oleh orang-orang yang relijius menurun.
Kata Alwi, penulis buku ini, rasa sakit dapat tetap tinggi atau menurun tergantung dengan kuat tidaknya iman seseorang.
“Keyakinan dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang,” tulisnya.
Dua kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita.
Pertama, membiasakan hal-hal yang baik membuat kita terbiasa dalam situasi kebaikan pula. Dalam pepatah arab pernah kita dengar, “Man Syabba a`la Sya`in Saabba a`laihi (barangsiapa terbiasa melakukan sesuatu sejak dini, akan terbawa hingga dewasa).”
Kebiasaan memang belum belum tentu baik namun kebaikan, itu perlu kita biasakan.
Seyogianya kita berhati-hati sebelum mendudukkan seseorang sebagai idola dan pujaan hati.
Penelitian dalam kisah tersebut sedikit memberi bukti bahwa pengidolaan yang salah membuat diri menjadi tersiksa secara lahir, belum lagi hati kita yang tidak nyaman di kala musibah datang.
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Seseorang itu akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.”
Ketika kita menumpahkan cinta pada sosok yang tidak kenal Allah, tidak bersembah sujud, memuji, bertasbih kepada-Nya, malah mendurhakai-Nya, maka siap-siaplah kita kelak dibangkitkan setelah mati bersama mereka.
Banyak sosok dengan kepribadian mengagumkan yang bisa kita idolakan.
Sederet tokoh terdahulu maupun sekarang, bisa kita jadikan sebagai teladan. Dan dari semua sosok tersebut, yang paling unggul dalam ketakwaan, kebaiakan, kedermawanan, kelembutan, adalah Nabi Muhammad SAW.
Dengan mengidolakan beliau, segala kehidupan akan menjadi mudah belaka.
Mengapa? Karena kita mencontoh pribadi yang telah tahan banting mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan dan masalah. Beliau sigap mengemas kesulitan menjadi kemudahan. Dengan meniru dan mengidolakan beliau, dengan sendirinya kita akan berusaha meneladani jejak langkahnya dalam suka maupun duka.
Ketiga, pentingnya kedudukan iman dan yakin. Yakin adalah gambaran tentang kekuatan dan kekokohan iman, yang tidak mudah diombang-ambing oleh keraguan, dan gundah gulana.
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Risalatul Mu`awanah menyebut ada tiga perkara yang menjadi sebab keyakinan kita menjadi kuat dan kokoh.
“Pertama, menjadikan hati dan telinga untuk aktif menyimak ayat-ayat Allah yang berisi petunjuk keagungan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Kedua, selalu melihat dan merenungi ciptaan Allah yang terbentang di hadapan seorang hamba. Mengamati bagaimana indah dan uniknya ciptaan Allah. Ketiga, beramal kebaiakan, secara lahir maupun batin, dengan penuh kesungguhan dan keseriusan.”
Dengan keyakinan yang kuat, kita tidak mudah berputus asa saat kesulitan datang menerpa. Justru kesulitan dapat kita jadikan sebagai kesempatan mencari karunia Ilahi seluas-luasnya.
Dengan keyakinan yang mantap pula, Ibnu Taimiyah berkata ketika ia dijebloskan ke penjara oleh rezim yang hidup di masanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh musuhku! Sesungguhnya surgaku ada di hatiku. Ke manapun aku pergi dia selalu bersamaku. Apabila aku dipenjara maka itu adalah khalwatku (berduan-duaan) dengan Allah, apabila aku dibunuh maka syahadah (kesyahidan) bagiku, dan apabila aku diusir maka itu merupakan syiyahah (perjalanan di jalan Allah).”*
http://www.hidayatullah.com/read/19243/08/10/2011/sesungguhnya-surgaku-ada-di-hatiku!-.html
Kamis, 01 September 2011
Idul Fitri
Ibadah dan tradisi pada Idul Fitri
| Arab | Latin | Terjemahan | |||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| الله أكبر الله أكبر الله أكبر | Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar | Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar | |||||||||||||||||||
| لا إله إلا الله | la ilaha illa Allah | Tidak ada Tuhan selain Allah | |||||||||||||||||||
| الله أكبر الله أكبر | Allahu akbar, Allahu akbar | Allah Maha Besar, Allah Maha Besar | |||||||||||||||||||
| ولله الحمد | wa li-illahi al-hamd | Segala puji hanya bagi Allah |
Idul Fitri di berbagai wilayah
Asia
Asia Tenggara
Asia Selatan
Arab Saudi
Cina
Iran
Eropa
Turki
Amerika
Amerika Utara
Idul Fitri dalam kalender Masehi
| Hijriah | Masehi |
|---|---|
| 1410 | 27 April 1990 |
| 1411 | 16 April 1991 |
| 1412 | 4 April 1992 |
| 1413 | 25 Maret 1993 |
| 1414 | 14 Maret 1994 |
| 1415 | 3 Maret 1994 |
| 1416 | 21 Februari 1996 |
| 1417 | 9 Februari 1997 |
| 1418 | 30 Januari 1998 |
| 1419 | 19 Januari 1999 |
| 1420 | 8 Januari 2000 |
| 1421 | 27 Desember 2000 |
| 1422 | 16 Desember 2001 |
| 1423 | 6 Desember 2002 |
| 1424 | 25 November 2003 |
| 1425 | 14 November 2004 |
| 1426 | 3 November 2005 |
| 1427 | 24 Oktober 2006[10] |
| 1428 | 13 Oktober 2007 |
| 1429 | 1 Oktober 2008 |
| 1430 | 21 September 2009 |
| 1431 | 10 September 2010[11] |
| 1432 | 31 Agustus 2011[12] |
| 1433 | 19 Agustus 2012 |
| 1434 | 8 Agustus 2013 |
| 1435 | 29 Juli 2014 |
| 1436 | 19 Juli 2015 |
| 1437 | 7 Juli 2016 |
| 1438 | 26 Juni 2017 |
| 1439 | 15 Juni 2018 |
| 1440 | 5 Juni 2019 |
Minal 'Aidin wal-Faizin
Perselisihan
- . Minal 'Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar.
- . Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan Indonesia.
Senin, 08 Agustus 2011
Selamat Datang Ramadhan
| Selamat Datang Ramadhan |
|
|
| Alhamdulillah, Ramadhan kini datang menjelang. Kaum muslimin semua senang. Suasana pun jadi tenang. Karena memang bulan ini adalah bulan kemenangan. Buat siapa? Tentunya buat kita, kaum muslimin. Kayaknya kita juga udah ngeh kalo bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Itu sebabnya, kita semua gembira menyambut Ramadhan. Nggak percaya? Lihat aja adik-adik kita udah mulai pada semangat nyundut petasan. Lho kok? Iya, kita juga nggak abis pikir kenapa Ramadhan selalu identik dengan tradisi bakar petasan. Aneh ya? Tapi, itulah sisi lain dari tradisi Ramadhan di negeri ini sobat. ? Sobat muda muslim, semangat kaum muslimin dalam menyambut bulan mulia ini juga terlihat dengan maraknya kegiatan-kegiatan yang bernuansa Ramadhan. Stasiun televisi, seperti tahun-tahun sebelumnya, juga getol menayangkan program unggulan mereka. Mulai dari acara kuis, acara ceramah pengantar sahur, ceramah menjelang berbuka puasa, iklan berbagai produk yang banyak muncul selalu disisipi pesan “selamat menunaikan ibadah puasa”, dan nggak ketinggalan tayangan favorit untuk menemani “ngabuburit”, yakni sinetron Ramadhan; seperti yang sekarang muncul adalah Alung, Jalan Lain Ke Sana, Doa dan Anugerah, dan judul lainnya . Tentu degan artis-artis ngetop yang tampil lebih sopan ketimbang bulan sebelumnya. Gimana pun juga, Ramadhan memang memiliki nilai lebih bagi perubahan individu. Meski dengan beragam niat tentunya. Ada yang sungguh-sungguh karena keimanan, tapi nggak sedikit juga yang ikut-ikutan aja. Wallahu’alam. Di lingkungan sekitar kita pun kena imbasnya. Masjid-masjid mulai direhab, sebagian warga malah menghias rumahnya agar terlihat lebih asri dan apik, agenda kegiatan udah disusun rapi oleh DKM setempat, termasuk kegiatan remaja masjid; ada ceramah ba’da shubuh, ada acara pengajian menjelang berbuka puasa, juga shalat tarawih berjamaah. Duh, indah nian suasana Ramadhan ini ya? Coba kalo kondisi model begini ada sepanjang hari selama hidup kita. Ueeenak tenaan! Kalo pada bulan biasa kita males bangun pagi, malah ada juga yang baru bisa bangun kalo udah diguyur pake air, tapi nggak di bulan Ramadhan. Hmm… di bulan Ramadhan, selain karena suasana menjelang shubuh menjadi rame oleh aktivitas para ibu yang memasak makanan dan hingar-bingar oleh anak-anak yang ngebangunin sahur dengan memainkan beragam alat musik, juga karena tumbuh dalam diri kita kesadaran dan tanggung jawab tentang kewajiban tersebut. Tul nggak? Eh, ngomong-ngomong soal tradisi ngebangunin orang yang mau sahur, kamu pernah nggak ikutan? Asyik juga ya bisa bantuin orang bangun pagi, sambil tentunya bisa menjajal keahlian kamu dalam olah vokal dan memainkan alat musik ‘band kepret’. Itu sebabnya, bagi teman-teman kita yang kebetulan sempat menikmati Ramadhan di negeri orang, suasana seperti itu amat dirindukan. Ini juga sisi lain yang kayaknya nambah indah suasana. Meski tentunya naif banget kalo Ramadhan cuma diisi dengan kegiatan begituan, bahkan sampe menjadi ciri khas. Banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Bahkan lebih besar nilai pahala bagi ibadah kita. Itu sebabnya, siapkan sejak sekarang. Menyambut datangnya Ramadhan sama artinya dengan menyiapkan berbagai rencana kita untuk mengisi bulan yang mulia ini. Tul nggak? Jangan sia-siakan puasamu
Nah, ngomongin soal puasa, sepertinya semua orang udah ngeh bahwa yang namanya puasa itu adalah aktivitas fisik kita. Kudu kuat nahan lapar dan haus dari mulai shubuh sampe menjelang maghrib. Selama kurang lebih 12 jam organ tubuh tertentu kita di-off-kan dari aktivitas mengolah makanan. Kalo hari biasa mulut kita nggak henti-hentinya ngegares makanan, di bulan Ramadhan pere dulu di siang hari. Sekaligus memberi kesempatan kepada lambung kita untuk ‘istirahat’. Insya Allah deh, kalo aktivitas nahan lapar dan nahan haus hampir bisa dilakukan setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun. Dulu aja jamannya mahasiswa sering demo, ada juga lho yang nekat “mogok makan”. Itu artinya secara fisik bisa kuat. Anak kecil aja, banyak yang udah mulai ikutan puasa. Malah hari biasa aja mereka bisa tahan untuk tidak makan kalo udah asyik dengan teman mainnya. Apalagi kalo udah lengket dengan video gim, dijamin bisa lupa segalanya. Jangan heran kalo ortu kamu misuh-misuh kesel karena adikmu ogah makan. Karena pikiran adikmu (atau malah kamu juga? He..he..) tertuju kepada level demi level, lengkap dengan ketegangan yang ada dalam permainan di video gim itu. Jadi intinya, secara fisik banyak di antara kita yang sanggup menahan rasa lapar dan haus. Kuat deh. Tapi jangan salah lho, puasa juga sebetulnya bisa dijadikan sarana untuk menambah kuantitas amal kita, sekaligus memperbaiki kualitas amal kita. Jadi, kalo kamu kuat nahan lapar, belum tentu juga kuat nahan godaan hawa nafsu kamu untuk ngomongin orang, untuk ngejailin orang, dan untuk berbuat maksiat lainnya. Insya Allah kita percaya deh sama kamu kalo kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak makan dan minum selama puasa, tapi kita khawatir kalo mulut kamu juga bisa puasa dari ghibah dan berbohong. Emang sih, puasa kamu kagak batal kalo berbohong, tapi itu bisa mengurangi pahala puasa kamu. Sayang kan, udah capek-cepak, eh, cuma dapet lapar dan dahaga aja. Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad) Jadi sayang kalo puasa fisik nggak dibarengi juga dengan ‘puasa’ dari perbuatan yang maksiat. Sungguh rugi pula kalo berlalu begitu saja tanpa ada aktivitas amal shaleh yang kita lakukan. Sebab, saat Ramadhan Allah memberikan “bonus” yang besar dalam ibadah kita. Jadi, jangan sia-siakan deh puasamu. Sayang banget. Apalagi belum tentu tahun depan kita ketemu lagi Ramadhan. Yuk, kita manfaatkan kesempatan ini. Jangan sampe lepas begitu saja. Puasa fisik wajib, tapi menjaga agar puasa ini nggak sia-sia juga wajib. Mulai sekarang, kita isi Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai pahala di sisi Allah. Setuju kan? Siap...siap, siap..siap Tetep produktif dong...
Seperti penjelasan di awal tulisan ini, bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Maka, jika kita melakukan kebajikan pada bulan Ramadhan, maka Allah Swt. akan membalasnya dengan sejumlah ganjaran. Tepatnya, pahalanya jadi berkali lipat. Bayangkan jika itu kamu lakukan setiap hari selama sebulan penuh di bulan mulia tersebut. Coba, siapa yang nggak tergiur? Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagi-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah) Jadi, sungguh aneh bin ajaib kalo ada teman remaja yang masih malas bin ogah untuk beraktivitas di bulan Ramadhan. Oke deh, mari kita perbanyak amal ibadah kita sekaligus meningkatkan kualitasnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini sobat. Pokoke, setiap ada kegiatan di masjid, di sekolah, or di kampus yang berhubungan dengan Ramadhan; seminar, ceramah ba’da shubuh, pengajian menjelang buka puasa, bahkan shalat tarawih berjamaah, usahakan kamu bisa menjalaninya dengan sempurna dan penuh semangat. Syukur-syukur kalo kamu sendiri justru aktif mengisi kegiatan tersebut; entah sebagai panitia, atau pengisi acara-acara tersebut. Duh, indah nian sobat. Ramadhan terasa begitu nikmat. Semoga kita bisa melakukannya dengan sempurna ya? Stop maksiat!
Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada “apa-apanya”. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat nggak bener. Puasa adalah tameng kita. Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’ (HR Bukhari) Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari) Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik. Jadi, kita sambut gembira Ramadhan ini, perbanyak amal sholeh, tingkatkan kualitasnya, dan tentu, tinggalkan maksiat. Jangan lupa, tetep giat mengkaji Islam. |


