Jumat, 09 Desember 2011

Antara AKU, KAMI dan eksistensi-NYA

ALLAH mengistilahkan diri-Nya kadang sebagai AKU dan kadang sebagai KAMI. AKU adalah eksistensiNYA sendirian dan KAMI adalah eksistensi-NYA yang meliputi segalanya. Dalam Al-Quran dikatakan "Sesungguhnya AKU adalah ALLAH", dan tidak dikatakan "Sesungguhnya KAMI adalah ALLAH."

Tapi dalam ayat lain dikatakan "Sesungguhnya KAMI yang menurunkan Al-Quran dan menjaganya", dan tidak dikatakan "Sesungguhnya AKU yang menurunkan Al-Quran dan menjaganya". Artinya, dengan menggunakan kata KAMI berarti ALLAH tengah menunjukkan keluasan kekuasaanNya dengan menyuruh para malaikat dan manusia untuk menjaga Al-Quran. Toh, karena Al-Quran itu untuk manusia dan alam semesta.

Mengapa harus demikian? Sebab, Makhluk berbeda dengan Kholik, tapi Kholik meliputi Makhluk. Malaikat pun adalah Makhluk. Jadi ketika Malaikat sedang bekerja berarti Kholik sedang bekerja. Walaupun sebenarnya Kholik bisa bekerja tanpa Makhluk, tapi Makhluk butuh Kehadiran Makhluk lainnya agar informasi yang disampaikan oleh Kholik bisa diterima, sebab bahasanya satu getaran, bahasa sesama makhluk.

Memangnya apa yang terjadi Kalau Kholik langsung kasih wahyu ke Makhluk, langsung kasih Rejeki ke Makhluk, langsung berbicara dengan Makhluk?

Maka makhluk bisa hancur karena ketidaksiapannya, sebagaimana Musa 'alaihis salam yang pingsan dan gunung tursina yang berhamburan. Maka Makhluk harus "tahu diri" bahwa dimensinya masih ZAHIR dan belum sampai BATHIN. Sedangkan KHOLIK itu MAHA ZAHIR sekaligus MAHA BATHIN. Artinya, sebetulnya KHOLIK siap bermain di wilayah dimensi manapun, tapi kebanyakan makhluk tidak siap menerima kehadiran Kholik jika bermain di wilayah BATHIN, kecuali makhluk yang sudah siap ZAHIR dan BATINnya, sebagaimana Rosulullah shallaahu 'alaihi wasallam.

Nah, untuk wilayah ZAHIR maka Allah utus Malaikat dan Para Nabi-Nya, agar makhluk bisa menerima informasi tentang-NYA dengan lebih baik. Itu sebabnya di Al-Quran dikatakan bahwa Allah itu ZAHIR (TERLIHAT) sekaligus BATHIN (TERSEMBUNYI).

"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yaang Awal dan Yang Akhir Yang Zahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. 57:3)

Wallahu a'lam
KZ
www.cahaya-semesta.com


Senin, 07 November 2011

Idul Adha 1432 H

Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim.

Penetapan Idul Adha

Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah Haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn. Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya”).
Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:
«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»
Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).
Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada amir Makkah.


Sabtu, 29 Oktober 2011

Sahabat Nabi






































Sahabat Nabi, dari kata shahabah (ash-shahaabah, الصحابه) adalah mereka yang mengenal dan melihat langsung Nabi Muhammad SAW, membantu perjuangannya dan meninggal dalam keadaan Muslim.

Definisi

Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi'i pernah berkata:
"Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam"[1]
Kebanyakan muslim mendefinisikan para sahabat sebagai mereka yang mengenal Nabi Muhammad SAW, mempercayai ajarannya, dan meninggal dalam keadaan Islam. Para sahabat utama yang biasanya disebutkan hingga 50 sampai 60 nama, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Sahabat disebut pula murid Nabi Muhammad.
Identifikasi terhadap sahabat nabi, termasuk status dan tingkatannya merupakan hal yang penting dalam dunia Islam karena dapat digunakan untuk mengevaluasi keabsahan suatu hadits maupun perbuatan Nabi yang diriwayatkan oleh mereka.
Lihat pula: Hadits

Tingkatan Sahabat

Menurut al-Hakim dalam Mustadrak, Sahabat terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:
  1. Para sahabat yang masuk Islam di Mekkah, sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafa'ur Rasyidin
    1. Khadijah binti Khuwailid
    2. Ali bin Abi Thalib
    3. Zaid bin Haritsah
    4. Abu Bakar ash-Shiddiq
    5. Umar bin Khattab
    6. Utsman bin Affan
    7. Abbas bin Abdul Muthalib
    8. Hamzah bin Abdul Muthalib
    9. Ja'far bin Abi Thalib
  2. Para sahabat yang mengikuti majelis Darunnadwah
  3. Para sahabat yang ikut serta berhijrah ke negeri Habasyah
  4. Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Aqabah pertama
  5. Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Aqabah kedua
  6. Para sahabat yang berhijrah setelah sampainya Rasulullah ke Madinah
  7. Para sahabat yang ikut serta pada perang Badar
  8. Para sahabat yang berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah
  9. Para sahabat yang ikut serta pada bai'at Ridhwan
  10. Para sahabat yang berhijrah antara perjanjian Hudaibiyyah dan fathu Makkah
    1. Khalid bin Walid
    2. Amru bin Ash
  11. Para sahabat yang masuk Islam pada fathu Makkah,
    1. Abu Sufyan
    2. Mu'awiyah bin Abu Sufyan
    3. Ikrimah bin Abu Jahal
  12. Bayi-bayi dan anak-anak yang pernah melihat Rasulullah saw pada fathu Makkah

Beberapa sahabat yang terkenal

Minggu, 23 Oktober 2011

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!


Oleh: Ali Akbar Bin Agil  

Di dalam Majalah Cahaya Nabawiy Edisi 98 Dzulqa`dah/September ini ada sebuah artikel menarik tentang”bencana alkohol”. Pada paragraph terakhir tulisan itu, ada satu kisah menarik tentang dua orang yang sama-sama sedang mengalami kesakitan di sebuah rumah sakit.
Kedua pasien baru saja menjalani operasi. Meski sama-sama dirawat, ada dua hal yang membedakan kedua pasien tersebut.
Bedanya pasien pertama berteriak-teriak histeris tidak karuan, mengeluarkan kata-kata umpatan, caci-maki sampai kedua tangan tangannya dan kakinya harus diikat.
Sementara pasien kedua, ia juga mengalami rasa sakit yang hampir sama. Ia juga berteriak-teriak dengan suara nyaring namun isi teriakannya adalah adzan. Dokter yang menulis kisah ini terheran-heran dengan dua perilaku kedua pasien yang sedang ia tangani. Satunya teriak kotor dan satunya lagi mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Karena penasaran, sang dokter akhirnya bertanya kepada pihak keluarga. Jawabannya, pasien yang teriak adzan adalah seorang juru azan (bilal) di mushalla yang ada di dekat rumahnya, di mana ia saban waktu mengumandangkan shalat dan mengajak masyarakat sekitar untuk datang ke mushalla untuk shalat berjama`ah.
Adapun pasien satunya, dilihat dari rekam medisnya ternyata ia seorang peminum minuman keras yang mengalami kecelakaan usai menenggak minuman yang memabukkan.
Pengalaman sang dokter seperti kisah di atas saya kaitkan dengan kisah lainnya sebagaimana ditulis oleh Alwi Alatas dalam bukunya yang berjudul “Whatever Your Problem, Smile:  (Apapun Masalahmu, Tersenyumlah).
Dalam buku ini,  Alwi mengemukakan sebuah penelitian yang dilakukan olen seorang ahli tentang “Kaitan Relijiusitas dan Keimanan Seseorang dengan Rasa Sakit.”


Penelitian dilakukan kepada orang yang taat beragama, biasa pergi ke tempat ibadah, dan dekat dengan Tuhannya, adapun objek penelitian selanjutnya dikenakan pada orang yang tidak taat beragama, bahkan tidak sedikit yang tidak percaya Tuhan alias atheis.
Bagaimana cara melakukan penelitian?
Peneliti memasang alat di kepala mereka yang taat beragama dan yang tidak taat saat mengalami rasa sakit. Kemudian, mereka diberi aliran listrik untuk menimbukan efek sakit. Akibatnya, mereka sama-sama merasakan rasa sakit dari aliran listrik. Lalu, mereka dikondisikan dengan foto-foto tokoh yang mereka idolakan selama ini.
Orang-orang yang relijius diberi foto bergambar tokoh relijius, dan orang yang tidak relijius diberi foto tokoh yang mereka kagumi.
Ternyata, meski keduanya menunjukkan aktivitas menahan rasa sakit yang sangat, namun keadaannya jauh berbeda. Tingkat rasa sakit orang-orang yang tak relijius dan atheis tetap dalam volume tinggi. Sementara, rasa sakit yang dialami oleh orang-orang yang relijius menurun.
Kata Alwi, penulis buku ini, rasa sakit dapat tetap tinggi atau menurun tergantung dengan kuat tidaknya iman seseorang.
“Keyakinan dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang,” tulisnya.

Dua kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita.
Pertama, membiasakan hal-hal yang baik membuat kita terbiasa dalam situasi kebaikan pula. Dalam pepatah arab pernah kita dengar, “Man Syabba a`la Sya`in Saabba a`laihi (barangsiapa terbiasa melakukan sesuatu sejak dini, akan terbawa hingga dewasa).”
Kebiasaan memang belum belum tentu baik namun kebaikan, itu perlu kita biasakan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia akan mati lalu dibangkitkan sesuai keadaan semasa ia hidup.” Ketika kebiasaan baik kita lakoni saban hari, maka kesempatan untuk meraih husnul khatimah terbuka lebar bagi kita. Sebaliknya, kala keburukan yang kita budayakan, maka lawan khusnul khatimah yang akan kita raih.
Kedua, selayaknya kita menempatkan tokoh-tokoh yang mempunyai integritas pada hati kita.
Seyogianya kita berhati-hati sebelum mendudukkan seseorang sebagai idola dan pujaan hati.
Penelitian dalam kisah tersebut sedikit memberi bukti bahwa pengidolaan yang salah membuat diri menjadi tersiksa secara lahir, belum lagi hati kita yang tidak nyaman di kala musibah datang.
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Seseorang itu akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.”
Ketika kita menumpahkan cinta pada sosok yang tidak kenal Allah, tidak bersembah sujud, memuji, bertasbih kepada-Nya, malah mendurhakai-Nya, maka siap-siaplah kita kelak dibangkitkan setelah mati bersama mereka.
Banyak sosok dengan kepribadian mengagumkan yang bisa kita idolakan.
Sederet tokoh terdahulu maupun sekarang, bisa kita jadikan sebagai teladan. Dan dari semua sosok tersebut, yang paling unggul dalam ketakwaan, kebaiakan, kedermawanan, kelembutan, adalah Nabi Muhammad SAW.
Dengan mengidolakan beliau, segala kehidupan akan menjadi mudah belaka.
Mengapa? Karena kita mencontoh pribadi yang telah tahan banting mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan dan masalah. Beliau sigap mengemas kesulitan menjadi kemudahan. Dengan meniru dan mengidolakan beliau, dengan sendirinya kita akan berusaha meneladani jejak langkahnya dalam suka maupun duka.
Ketiga, pentingnya kedudukan iman dan yakin. Yakin adalah gambaran tentang kekuatan dan kekokohan iman, yang tidak mudah diombang-ambing oleh keraguan, dan gundah gulana.
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Risalatul Mu`awanah menyebut ada tiga perkara yang menjadi sebab keyakinan kita menjadi kuat dan kokoh.
Pertama, menjadikan hati dan telinga untuk aktif menyimak ayat-ayat Allah yang berisi petunjuk keagungan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Kedua, selalu melihat dan merenungi ciptaan Allah yang terbentang di hadapan seorang hamba. Mengamati bagaimana indah dan uniknya ciptaan Allah. Ketiga, beramal kebaiakan, secara lahir maupun batin, dengan penuh kesungguhan dan keseriusan.”
Dengan keyakinan yang kuat, kita tidak mudah berputus asa saat kesulitan datang menerpa. Justru kesulitan dapat kita jadikan sebagai kesempatan mencari karunia Ilahi seluas-luasnya.
Dengan keyakinan yang mantap pula, Ibnu Taimiyah berkata ketika ia dijebloskan ke penjara oleh rezim yang hidup di masanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh musuhku! Sesungguhnya surgaku ada di hatiku. Ke manapun aku pergi dia selalu bersamaku. Apabila aku dipenjara maka itu adalah khalwatku (berduan-duaan) dengan Allah, apabila aku dibunuh maka syahadah (kesyahidan) bagiku, dan apabila aku diusir maka itu merupakan syiyahah (perjalanan di jalan Allah).”*


http://www.hidayatullah.com/read/19243/08/10/2011/sesungguhnya-surgaku-ada-di-hatiku!-.html

Kamis, 01 September 2011

Idul Fitri

 
Idul Fitri (Bahasa Arab: عيد الفطر ‘Īdu l-Fiṭr) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Salat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area ibadahnya tidak cukup menampung jamaah. Dan sebelum salai ied di lakukan imam mengingatkan siapa yang belum membayar zakat fitrah, sebab kalau selesai salat ied baru membayar zakatnya hukum nya sodakoh biasa bukan zakat.
 

Ibadah dan tradisi pada Idul Fitri

Idul Fitri menandai berakhirnya puasa pada bulan Ramadan.
Salat Idul Fitri biasanya dilakukan di lapangan. Adapun hukum dari Salat Idul Fitri ini adalah sunnah mu'akkad. Sebelum salat, kaum muslimin mengumandangkan takbir. Adapun takbir adalah sebagai berikut:


Arab Latin Terjemahan
الله أكبر الله أكبر الله أكبر Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
لا إله إلا الله la ilaha illa Allah Tidak ada Tuhan selain Allah
الله أكبر الله أكبر Allahu akbar, Allahu akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
ولله الحمد wa li-illahi al-hamd Segala puji hanya bagi Allah                   



Takbir mulai dikumandangkan setelah bulan Syawal dimulai. Selain menunaikan Salat Sunnah Idul Fitri, kaum muslimin juga harus membayar zakat fitrah sebanyak 2,7 kilogram bahan pangan pokok. Tujuan dari zakat fitrah sendiri adalah untuk memberi kebahagiaan pada kaum fakir miskin. Kemudian, Khutbah diberikan setelah Salat Idul Fitri berlangsung, dan dilanjutkan dengan do'a. Setelah itu, kaum muslimin saling bermaaf-maafan. Terkadang beberapa orang akan berziarah mengunjungi kuburan.

Idul Fitri di berbagai wilayah

Asia

Asia Tenggara

Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah Mudik atau Pulang Kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda. Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat familiar di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan "halal bi-halal", memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.

Di Malaysia, Singapura, dan Brunei, Idul Fitri dikenal juga dengan sebutan Hari Raya Puasa atau Hari Raya Aidil Fitri. Masyarakat di Malaysia dan Singapura turut merayakannya bersama masyarakat Muslim diseluruh dunia. Seperti di Indonesia, malam sebelum perayaan selalu diteriakkan takbir di masjid ataupun mushala, yang mengungkapkan kemenangan dan kebesaran Tuhan. Diperkampungan, biasanya banyak masyarakat yang menghidupkan pelita atau panjut, atau obor di Indonesia. Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama perayaan Idul Fitri hingga akhir minggu perayaan. Masyarakat disini biasanya saling mengucapkan "Selamat Hari Raya" atau "Salam Aidil Fitri" dan "Maaf lahir dan batin" sebagai ungkapan permohonan maaf kepada sesama. Di Malaysia juga ada tradisi balik kampung, atau mudik di Indonesia. Disini juga ada tradisi pemberian uang oleh para orang tua kepada anak-anak, yang dikenal dengan sebutan duit raya.

Umat Muslim adalah minoritas di Filipina, sehingga sebagian besar masyarakat tidak begitu familiar dengan perayaan ini. Namun, perayaan Idul Fitri sudah diatur sebagai hari libur nasional oleh pemerintah dalam Republic Act No. 9177 dan berlaku sejak 13 November 2002.

Asia Selatan

Di Bangladesh, India, dan Pakistan, malam sebelum Idul Fitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, seringkali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional hennadan serta memakai rantai yang warna-warni.
Cara yang paling populer di Asia Selatan selama perayaan Idul Fitri adalah dengan mengucapkan Eid Mubarak kepada yang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Didalam penyambutan ini, mereka juga berharap untuk memperoleh uang, yang disebut Eidi, dari para orang tua.
Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru, bila mereka bisa mengusahakannya. Sebagai alternatif, mereka boleh menggunakan pakaian yang bersih, yang telah dicuci. Orang tua dan anak laki-laki pergi ke masjid atau lapangan terbuka, tradisi ini disebut Eidgah, salat Ied, berterimakasih kepada Allah karena diberi kesempatan beribadah di bulan Ramadan dengan penuh arti. Setiap Muslim diwajibkan untuk membayar Zakat Fitri atau Zakat Fitrah kepada fakir miskin, sehingga mereka dapat juga turut merayakan hari kemenangan ini.
Setelah salat, perkumpulan itu dibubarkan dansetiap Muslim saling bertamu dan menyambut satu sama lain termasuk anggota keluarga, anak-anak, orang tua, teman dan tetangga mereka.
Sebagian Muslim juga berziarah ke makam anggota keluarga mereka untuk berdoa bagi keselamatan almarhum. Biasanya, anak-anak mengunjungi sanak keluarga dan tetangga yang lebih tua untuk meminta maaf dan mengucapkan salam.
Setelah bertemu dengan teman dan sanak keluarganya, banyak orang yang pergi ke pesta-pesta, karnaval, dan perayaan khusus di taman-taman (dengan bertamasya, kembang api, mercon, dan lain-lain). Di Bangladesh, India, dan Pakistan, banyak dilakukan bazar, sebagai puncak Idul Fitri. Sebagian Muslim juga memanfaatkan perayaan ini untuk mendistribusikan zakat mal, zakat atas kekayaannya, kepada orang-orang miskin.
Dengan cara ini, umat Muslim di Asia Selatan merayakan Idul Fitri dalam suasana yang meriah, sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, dan mengajak keluarga mereka, teman, dan para fakir miskin, sebagai rasa kebersamaan.

Arab Saudi

Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idul Fitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade, pertunjukan musik, dan sebagainya. Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Cina

Di Cina, tepatnya di Xinjiang, perayaan Lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idul Fitri, pesta makan dan bersilaturahim pun dilakukan.

Iran

Lebaran di Iran justru kurang semarak. Hal ini karena mayoritas umat Islam di sana adalah pengikut ajaran Syiah. Setelah salat Idul Fitri di masjid atau lapangan, mereka cukup melanjutkannya dengan acara silaturahmi bersama keluarga dan ditutup dengan acara pemberian makanan dari keluarga kaya kepada yang kurang mampu.

Eropa

Di Eropa, perayaan Idul Fitri tidak dilakukan dengan begitu semarak. Di Inggris misalnya, Idul Fitri tidak diperingati sebagai hari libur nasional. Kaum muslimin di Inggris harus mencari informasi tentang hari Idul Fitri. Biasanya, informasi ini didapat dari Islamic Centre terdekat atau dari milis Islam. Idul Fitri dirayakan secara sederhana di Inggris. Khotbah disampaikan oleh Imam masjid setempat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Biasanya di satu area dimana terdapat banyak kaum Muslimin disana, kantor-kantor dan beberapa sekolah di area tersebut akan memberikan satu hari libur untuk kaum muslimin. Untuk menentukan hari Idul Fitri sendiri, para ulama dan para ahli agama Islam sering mengadakan rukyat hisab untuk menentukan hari raya Idul Fitri.

Turki

Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan "Bayramınız Kutlu Olsun", "Mutlu Bayramlar", atau "Bayramınız Mübarek Olsun". Pada Idul Fitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.
Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permen, cokelat, permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

Amerika

Amerika Utara

Umat Muslim di Amerika Utara pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Karena penetapan hari raya bergantung pada peninjauan bulan, seringkali banyak masyarakat tidak sadar bahwa hari berikutnya sudah Idul Fitri. Masyarakat menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan penghujung Ramadan dan permulaan Syawal. Orang Amerika Utara yang berada di wilayah timur bisa jadi merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dibanding mereka yang di wilayah barat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon.
Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim disana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majlis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan di masjid lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal. Salat Idul Fitri sangat penting, dan umat Muslim didorong untuk salat Id memohon ampunan dan pahala. Setelah salat, ada kutbah dimana imam memberikan nasihat bagi jamaahnya dan biasanya didorong untuk mengakhiri setiap kebencian ataupun kesalahan lampau yang mungkin mereka punya. Setelah salat dan kutbah, para jamaah saling memeluk dan satu sama lain saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Muslim di Amerika Utara juga merayakan Idul Fitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.
Empire State Building di New York City, Amerika Serikat, memancarkan lampu-lampu berwarna hijau sebagai penghormatan terhadap hari raya Idul Fitri pada tanggal 12-14 Oktober 2007.

Idul Fitri dalam kalender Masehi

Dalam kalender Islam, penetapan hari Idul Fitri selalu sama setiap tahunnya, hal ini berbeda dalam kalender Masehi yang selalu berubah dari tahun ke tahun. Dalam kalender Islam penetapan hari ialah berdasarkan fase bulan (kalender lunar), sedangkan kalender Masehi berdasar fase bumi mengelilingi matahari (kalender solar). Perbedaan inilah yang menyebabkan penetapan Idul Fitri selalu berubah di dalam kalender Masehi, yakni terjadi perubahan 11 hari lebih awal setiap tahunnya. Perkiraan hari Idul Fitri dalam kalender Masehi ialah sebagai berikut:

Hijriah Masehi
1410 27 April 1990
1411 16 April 1991
1412 4 April 1992
1413 25 Maret 1993
1414 14 Maret 1994
1415 3 Maret 1994
1416 21 Februari 1996
1417 9 Februari 1997
1418 30 Januari 1998
1419 19 Januari 1999
1420 8 Januari 2000
1421 27 Desember 2000
1422 16 Desember 2001
1423 6 Desember 2002
1424 25 November 2003
1425 14 November 2004
1426 3 November 2005
1427 24 Oktober 2006[10]
1428 13 Oktober 2007
1429 1 Oktober 2008
1430 21 September 2009
1431 10 September 2010[11]
1432 31 Agustus 2011[12]
1433 19 Agustus 2012
1434 8 Agustus 2013
1435 29 Juli 2014
1436 19 Juli 2015
1437 7 Juli 2016
1438 26 Juni 2017
1439 15 Juni 2018
1440 5 Juni 2019


Minal 'Aidin wal-Faizin

Minal 'Aidin wal-Faizin adalah tradisi yang biasa diucapkan antara sesama muslim Indonesia saat merayakan Idul Fitri, setelah menunaikan ibadah puasa pada bulan ramadan. Ucapan ini secara harfiah diterjemahkan menjadi "dari (yang) kembali dan berhasil", secara umum ditejemahkan "Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)" 

Perselisihan

Mengucapkan kata "Minal 'Aidin wal-Faizin" di saat hari Idul Fitri maupun Idul Adha, merupakan budaya umat Islam di Indonesia, biarpun berbahasa Arab, ucapan ini tidak akan dimengerti maknanya oleh orang Arab, dan kalimat ini tidak ada dalam kosa kata kamus bahasa Arab, dan hanya dapat dijumpai makna kata per katanya saja. Tidak ada dasar-dasar yang jelas tentang ucapan ini, baik berupa hadist atau lainnya. Berdasarkan hadist pada saat hari Raya para sahabat saling mengucapkan "Taqobbalallahu minna waminkum" yang artinya "semoga Allah menerima amalku dan amal kalian".
Penulisan yang benar:
  • . Minal 'Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar.
  • . Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan Indonesia.
Ucapan "Minal 'Aidin wal-Faizin" tidak disarankan untuk diucapkan pada hari raya, sebagaimana Rasulullah mengucapkan "Taqabbalallahu Minna Wa Minkum" yang artinya "Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan".

 

Senin, 08 Agustus 2011

Selamat Datang Ramadhan


Selamat Datang Ramadhan

Alhamdulillah, Ramadhan kini datang menjelang. Kaum muslimin semua senang. Suasana pun jadi tenang. Karena memang bulan ini adalah bulan kemenangan. Buat siapa? Tentunya buat kita, kaum muslimin. Kayaknya kita juga udah ngeh kalo bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Itu sebabnya, kita semua gembira menyambut Ramadhan. Nggak percaya? Lihat aja adik-adik kita udah mulai pada semangat nyundut petasan. Lho kok? Iya, kita juga nggak abis pikir kenapa Ramadhan selalu identik dengan tradisi bakar petasan. Aneh ya? Tapi, itulah sisi lain dari tradisi Ramadhan di negeri ini sobat. ?

Sobat muda muslim, semangat kaum muslimin dalam menyambut bulan mulia ini juga terlihat dengan maraknya kegiatan-kegiatan yang bernuansa Ramadhan. Stasiun televisi, seperti tahun-tahun sebelumnya, juga getol menayangkan program unggulan mereka. Mulai dari acara kuis, acara ceramah pengantar sahur, ceramah menjelang berbuka puasa, iklan berbagai produk yang banyak muncul selalu disisipi pesan “selamat menunaikan ibadah puasa”, dan nggak ketinggalan tayangan favorit untuk menemani “ngabuburit”, yakni sinetron Ramadhan; seperti yang sekarang muncul adalah Alung, Jalan Lain Ke Sana, Doa dan Anugerah, dan judul lainnya . Tentu degan artis-artis ngetop yang tampil lebih sopan ketimbang bulan sebelumnya. Gimana pun juga, Ramadhan memang memiliki nilai lebih bagi perubahan individu. Meski dengan beragam niat tentunya. Ada yang sungguh-sungguh karena keimanan, tapi nggak sedikit juga yang ikut-ikutan aja. Wallahu’alam.

Di lingkungan sekitar kita pun kena imbasnya. Masjid-masjid mulai direhab, sebagian warga malah menghias rumahnya agar terlihat lebih asri dan apik, agenda kegiatan udah disusun rapi oleh DKM setempat, termasuk kegiatan remaja masjid; ada ceramah ba’da shubuh, ada acara pengajian menjelang berbuka puasa, juga shalat tarawih berjamaah. Duh, indah nian suasana Ramadhan ini ya? Coba kalo kondisi model begini ada sepanjang hari selama hidup kita. Ueeenak tenaan!

Kalo pada bulan biasa kita males bangun pagi, malah ada juga yang baru bisa bangun kalo udah diguyur pake air, tapi nggak di bulan Ramadhan. Hmm… di bulan Ramadhan, selain karena suasana menjelang shubuh menjadi rame oleh aktivitas para ibu yang memasak makanan dan hingar-bingar oleh anak-anak yang ngebangunin sahur dengan memainkan beragam alat musik, juga karena tumbuh dalam diri kita kesadaran dan tanggung jawab tentang kewajiban tersebut. Tul nggak?

Eh, ngomong-ngomong soal tradisi ngebangunin orang yang mau sahur, kamu pernah nggak ikutan? Asyik juga ya bisa bantuin orang bangun pagi, sambil tentunya bisa menjajal keahlian kamu dalam olah vokal dan memainkan alat musik ‘band kepret’. Itu sebabnya, bagi teman-teman kita yang kebetulan sempat menikmati Ramadhan di negeri orang, suasana seperti itu amat dirindukan. Ini juga sisi lain yang kayaknya nambah indah suasana. Meski tentunya naif banget kalo Ramadhan cuma diisi dengan kegiatan begituan, bahkan sampe menjadi ciri khas. Banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Bahkan lebih besar nilai pahala bagi ibadah kita. Itu sebabnya, siapkan sejak sekarang. Menyambut datangnya Ramadhan sama artinya dengan menyiapkan berbagai rencana kita untuk mengisi bulan yang mulia ini. Tul nggak?

Jangan sia-siakan puasamu
Kayaknya kamu semua udah pada tahu dong kalo puasa Ramadhan itu wajib hukumnya. Kalo ada yang belum tahu, waduh kasihan banget tuh. Tapi insya Allah semuanya udah paham ya? Sebab Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (TQS al-Baqarah [2]: 183)

Nah, ngomongin soal puasa, sepertinya semua orang udah ngeh bahwa yang namanya puasa itu adalah aktivitas fisik kita. Kudu kuat nahan lapar dan haus dari mulai shubuh sampe menjelang maghrib. Selama kurang lebih 12 jam organ tubuh tertentu kita di-off-kan dari aktivitas mengolah makanan. Kalo hari biasa mulut kita nggak henti-hentinya ngegares makanan, di bulan Ramadhan pere dulu di siang hari. Sekaligus memberi kesempatan kepada lambung kita untuk ‘istirahat’. Insya Allah deh, kalo aktivitas nahan lapar dan nahan haus hampir bisa dilakukan setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun. Dulu aja jamannya mahasiswa sering demo, ada juga lho yang nekat “mogok makan”. Itu artinya secara fisik bisa kuat. Anak kecil aja, banyak yang udah mulai ikutan puasa. Malah hari biasa aja mereka bisa tahan untuk tidak makan kalo udah asyik dengan teman mainnya. Apalagi kalo udah lengket dengan video gim, dijamin bisa lupa segalanya. Jangan heran kalo ortu kamu misuh-misuh kesel karena adikmu ogah makan. Karena pikiran adikmu (atau malah kamu juga? He..he..) tertuju kepada level demi level, lengkap dengan ketegangan yang ada dalam permainan di video gim itu. Jadi intinya, secara fisik banyak di antara kita yang sanggup menahan rasa lapar dan haus. Kuat deh.

Tapi jangan salah lho, puasa juga sebetulnya bisa dijadikan sarana untuk menambah kuantitas amal kita, sekaligus memperbaiki kualitas amal kita. Jadi, kalo kamu kuat nahan lapar, belum tentu juga kuat nahan godaan hawa nafsu kamu untuk ngomongin orang, untuk ngejailin orang, dan untuk berbuat maksiat lainnya. Insya Allah kita percaya deh sama kamu kalo kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak makan dan minum selama puasa, tapi kita khawatir kalo mulut kamu juga bisa puasa dari ghibah dan berbohong.

Emang sih, puasa kamu kagak batal kalo berbohong, tapi itu bisa mengurangi pahala puasa kamu. Sayang kan, udah capek-cepak, eh, cuma dapet lapar dan dahaga aja. Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)

Jadi sayang kalo puasa fisik nggak dibarengi juga dengan ‘puasa’ dari perbuatan yang maksiat. Sungguh rugi pula kalo berlalu begitu saja tanpa ada aktivitas amal shaleh yang kita lakukan. Sebab, saat Ramadhan Allah memberikan “bonus” yang besar dalam ibadah kita. Jadi, jangan sia-siakan deh puasamu. Sayang banget. Apalagi belum tentu tahun depan kita ketemu lagi Ramadhan. Yuk, kita manfaatkan kesempatan ini. Jangan sampe lepas begitu saja. Puasa fisik wajib, tapi menjaga agar puasa ini nggak sia-sia juga wajib. Mulai sekarang, kita isi Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai pahala di sisi Allah. Setuju kan? Siap...siap, siap..siap

Tetep produktif dong...
Sobat muda muslim, puasa bukan saatnya untuk malas-malasan, apalagi malas beneran. Emang sih, kalo puasa bawaannya ngantuk melulu. Jadi jangan kaget kalo ada yang terus ‘zzzzzzz’ (baca: tidur). Betul, kalo puasa, tidur aja dinilai ibadah, lho. Tapi bukan berarti seharian kamu tidur melulu. Rugi berat sobat! Banyak hal yang bisa kamu lakukan selama menjalani puasa. Sebab puasa emang bukan penghalang kita untuk beraktivitas. Justru sebaliknya kian getol menambah jumlah amal baik kita, dan jangan lupa kualitas amal kudu diperhatikan. Banyak beramal juga bisa percuma aja kalo kualitasnya jelek (baca: tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya; dilihat dari niat dan caranya).

Seperti penjelasan di awal tulisan ini, bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Maka, jika kita melakukan kebajikan pada bulan Ramadhan, maka Allah Swt. akan membalasnya dengan sejumlah ganjaran. Tepatnya, pahalanya jadi berkali lipat. Bayangkan jika itu kamu lakukan setiap hari selama sebulan penuh di bulan mulia tersebut. Coba, siapa yang nggak tergiur?

Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagi-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)

Jadi, sungguh aneh bin ajaib kalo ada teman remaja yang masih malas bin ogah untuk beraktivitas di bulan Ramadhan. Oke deh, mari kita perbanyak amal ibadah kita sekaligus meningkatkan kualitasnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini sobat. Pokoke, setiap ada kegiatan di masjid, di sekolah, or di kampus yang berhubungan dengan Ramadhan; seminar, ceramah ba’da shubuh, pengajian menjelang buka puasa, bahkan shalat tarawih berjamaah, usahakan kamu bisa menjalaninya dengan sempurna dan penuh semangat.

Syukur-syukur kalo kamu sendiri justru aktif mengisi kegiatan tersebut; entah sebagai panitia, atau pengisi acara-acara tersebut. Duh, indah nian sobat. Ramadhan terasa begitu nikmat. Semoga kita bisa melakukannya dengan sempurna ya?

Stop maksiat!
Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz untuk melakukan maksiat. Tapi sayang, bagi sebagian teman remaja masih aja ada yang betah melakukan maksiat. Coba deh lihat, shalat tarawih berjamaah di masjid aja pake acara jemput-jemputan pasangannya. Duh, puasa ternyata nggak bikin maksiat berhenti, malah semakin ‘gila’ aja melakukannya. Alasan temen kita, biasanya menganggap bahwa pacaran menurutnya nggak membatalkan puasa. Hmm... emang bener sih, karena hal-hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum di siang hari. Tapi aktivitas pacaran bisa merusak pahala puasa kita. Hih, rugi atuh Neng!

Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada “apa-apanya”. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat nggak bener. Puasa adalah tameng kita. Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’ (HR Bukhari)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari)

Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.

Jadi, kita sambut gembira Ramadhan ini, perbanyak amal sholeh, tingkatkan kualitasnya, dan tentu, tinggalkan maksiat. Jangan lupa, tetep giat mengkaji Islam.