Alhamdulillah, akhirnya tuntas sudah ibadah Ramadhan
1435 H. Suatu kebahagiaan yang sangat luar biasa, Allah memberikan kita
semua kesempatan berjumpa Ramadhan sebulan penuh. Dan, kedatangan Hari
Raya Idul Fitri.
Akan tetapi, karena kegembiraan yang berlebihan sebagian dari umat
Islam justru seketika tercerabut dari tradisi Ramadhan yang dilatih dan
dibangun selama sebulan penuh. Aktivitas-aktivitas ibadah yang terasa
begitu nikmat, secara perlahan, mulai kurang terasa kenikmatannya. Dan,
pada akhirnya, hidup kembali ke asalnya, seperti belum pernah bertemu
Ramadhan.
Hal ini tentu mesti diantisipasi agar target dari puasa benar-benar
tercapai, yakni takwa. Patut disadari bahwa Ramadhan bukanlah waktu
akhir dimana umat Islam giat beribadah. Namun Ramadhan adalah hadiah
dari Allah yang harus terus dijaga, dipelihara dan dipertahankan agar
sepanjang tahun dan sepanjang hayat kita, takwa senantiasa menjadi bekal
utama kita.
Mungkin tidak semua bisa kita pertahankan, tetapi hendaknya yang
utama dalam ke-Islam-an seseorang harus tetap terus dipelihara. Mulai
dari aspek ibadah hingga sikap.
Ibadah
Dalam kontek ibadah, aktivitas positif apa pun yang bersumber dari
Rasulullah mesti terus dipelihara, dilakukan terus menerus. Seperti,
sholat berjama’ah, qiyamul lail, membaca atau mentadabburi Al-Qur’an,
menghadiri majelis ilmu, dzikir dan lain sebagainya.
Dalam hal dzikir misalnya, Rasulullah tetap antusias menjalankannya
meski di luar Ramadhan, bahkan beliau konsisten membaca salah satu
dzikir; istighfar sebanyak 70 kali sehari.
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali” (HR. Bukhari).
Maka, sembari bersilaturrahmi atau pun sebelum dan sesudah bersua
keluarga, tetangga atau pun sahabat, istighfar harus terus menjadi
tradisi yang prioritas dalam kehidupan kita.
Bahkan dalam hadits lain secara implisit Rasulullah memberikan
petunjuk praktis mengenai waktu kapan sebaiknya istighfar itu dilakukan.
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga
terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.”(HR. An Nasa’i).
Dengan kata lain, hadits di atas memberikan peringatan secara tidak
langsung bahwa sebaiknya umat Islam menjaga tradisi bangun di tengah
malam, sehingga bisa sholat Shubuh berjama’ah kemudian bisa dilanjutkan
dengan banyak beristighfar.
Sikap
Sikap
Setelah ibadah, hal penting yang harus tetap dipelihara adalah sikap,
utamanya sikap sederhana terhadap makanan. Jika selama berpuasa kita
bisa makan secukupnya kemudian meningkat rasa persaudaraan atau
solidaritasnya, maka sikap demikian harus tetap dijaga, meski mungkin
tidak harus benar-benar sama seperti kala Ramadhan.
Sebab, perintah Allah agar kita peduli berlaku sepanjang hayat dan
harus meningkat sepanjang Ramadhan. Dan, yang patut kita ingat, dalam
harta kita ada bagian mereka yang Allah tentukan.
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS Adz-Dzariyat [51]: 19).
Sebagian besar ulama berpendapat yang dimaksud dengan orang miskin
yang tidak mendapat bagian ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.
Catat, mungkin ini adalah tetangga dekat kita, teman atau bahkan mungkin
saudara sendiri. Terhadap mereka jangan pernah melupakannya, apalagi di
momenum penuh kebahgiaan seperti lebaran.
Dengan demikian adalah suatu kekeliruan jika usai Ramadhan diisi
dengan berbagai aktivitas hura-hura dalam hal apa saja, entah itu
makanan, maupun perilaku konsumtif lainnya. Sikap peduli akan sulit
muncul pada sanubari seseorang, kecuali hanya jika orang tersebut
menguatkan imannya dengan sikap sederhana.
Selain sikap sederhana, tentu masih banyak sikap lain yang mesti
dipelihara, mulai dari sikap sabar, pemaaf, santun dan rendah hati.
Dengan mempertahankan setidaknya dua hal di atas, insya Allah
ketakwaan bisa terus kita pertahankan hingga bertemu Ramadhan dan
menghadap keharibaan-Nya. Dan, jika itu terjadi, maka sungguh Ramadhan
tahun ini benar-benar telah mengantarkan kita pada pribadi takwa. Wallahu a’lam.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar